vhizaliumloverz











Kambing Boer Memang Kambing Pedaging Unggul

Foto ini memperlihatkan kambing Boer jantan galur murni (fullblood). Dari penampilan fisiknya memang jelas terlihat keunggulan kambing pedaging yang sangat terkenal di dunia ini. 

Saya yakin, rekan-rekan peternak Indonesia sangat bersemangat mendapatkan kambing pedaging terunggul di dunia ini.

Kalau para peternak kambing Indonesia bisa memelihara kambing Boer sudah terbayang berapa keuntungan yang dapat diperoleh dari hasil penjualannya nanti. Kalau dihargai menurut bobot hidup saja, jelas harganya sangat menguntungkan karena bobot kambing Boer jantan bisa mencapai lebih dari 100 kg.

Luar biasa, bukan?

Sayangnya, para peternak Indonesia kesulitan mendapatkan trah kambing pedaging unggul ini karena memang masih sangat langka perusahaan Indonesia yang mengimpor kambing Boer dari luar negeri dan menjualnya sebagai bibit bagi para peternak maupun calon peternak kambing.

Di negara tetangga, Malaysia, peternakan kambing Boer sudah berkembang pesat. Kalau peternakan kambing Boer bisa berkembang pesat di Malaysia, pasti peternakan kambing Boer juga bisa berkembang lebih pesat di Indonesia mengingat iklim kedua negara yang sama namun lahan di negara kita sangat jauh lebih luas dan subur.

 

Gambaran Umum Kambing Sabana

Kambing Boer berwarna kombinasi merah (kepala sampai leher) dan putih (badan), kambing Kalahari berwarna merah total, dan kambing Sabana berwarna putih sempurna. Kalau dilihat penampilan fisiknya, ketiga jenis kambing ini nampaknya sama saja sehingga orang bisa mengatakan ketiganya adalah kambing Boer – kambing Boer belang, kambing Boer merah, dan kambing Boer putih. 

Namun demikian, apakah ketiga jenis kambing ini memang termasuk dalam satu trah yang sama ataukah ketiganya merupakan tiga trah kambing yang berbeda?

 

Gambaran Umum Kambing Kalahari

Kecuali warna bulunya, penampilan kambing Kalahari sangat mirip dengan kambing pedaging unggul lainnya, yaitu kambing Boer. 

Apakah kambing Kalahari sama dengan kambing Boer, ataukah keduanya merupakan trah kambing pedaging unggul yang berbeda?

Uraian lengkap mengenai gambaran umum kambing pedaging unggul asal Afrika Selatan ini akan disajikan nanti.

 

Gambaran Umum Kambing Anglo Nubia

Kambing Anglo Nubia merupakan kambing dwi-fungsi – bisa dijadikan kambing pedaging dan bisa juga dijadikan kambing perah. Kalau diperhatikan, kambing Anglo Nubia mirip dengan kambing Etawa – keduanya sama-sama tinggi dan panjang serta bermuka cembung dan telinga panjang menggantung. Namun demikian, berbeda dengan kambing Etawa yang berbadan ramping, kambing Anglo Nubia memperlihatkan badan yang padat berisi. 

 

Klasifikasi Kambing Boer

Di luar negeri, seperti di Inggris, Australia, dan Amerika Serikat, sistem pencatatan silsilah kambing Boernya sudah sangat rapi. Namun demikian, masih ada juga peternak luar negeri yang belum benar-benar memahami istilah-istilah klasifikasi kambing Boer seperti galur murni bersertifikat/terdaftar (registered fullblood), galur murni tak bersertifikat/terdaftar (unregistered fullblood) atau komersial, galur setara murni (purebred atau F4/F5 ke atas), galur kelas A (F3), galur kelas B (F2), dan galur kelas C (F1).  

Itu di kalangan peternak luar negeri yang sudah rapi sistem pencatatan silsilah kambingnya, apalagi kita peternak di Indonesia yang belum ada atau mungkin baru sedikit sekali yang melakukan pencatatan silsilah kambingnya. Sebagian besar peternak Indonesia mungkin belum paham istilah kambing Boer fullblood, komersial, purebred, kelas A atau F3, kelas B atau F2, dan kelas C atau F1.

 

Sejarah Kambing Boer

Asal mula kambing Boer tidak jelas dan kemungkinan besar berasal dari nenek moyang kambing yang dipelihara oleh suku Namaqua Hottentot dan suku-suku masyarakat Bantu Selatan yang hidup berpindah-pindah (Barrow, 1801; Epstein, 1971; Mason, 1981; Campbell, 1984). Pengaruh lainnya kemungkinan besar berasal dari India (Pegler, 1886) dan Eropa (Schreiner, 1898) juga memberikan pengaruh terhadap nenek moyang kambing ini. Adanya kambing Boer yang tidak bertanduk menunjukkan kemungkinan pengaruh kambing perah Eropa (Anonim, 1960). Kelihatannya kambing Boer memiliki gen dari jenis-jenis kambing ini, terutama berdasarkan kebiasaan hidup berpindah dan berdagang masyarakat penghuni awal Afrika Selatan. 

 

Spesifikasi Standar Kambing Boer

Perhimpunan Peternak Kambing Boer Amerika (ABGA, American Boer Goat Association) telah menetapkan spesifikasi standar kambing Boer murni. Spesifikasi standar tersebut adalah sebagai berikut: 

Kepala
Kepala besar dan kokoh dengan mata coklat dan penampilan yang gagah. Hidung dengan lengkung yang bagus, lubang hidung lebar, dan bentuk mulut yang bagus dengan kedua rahang berhadapan rapi. Rahang atas maupun rahang bawah tidak ada yang menonjol ke depan sejak lahir sampai umur 24 bulan. Setelah umur 24 bulan, tonjolan rahang bawah tidak lebih dari ¼ inci. Rahang atas dan bawah yang saling berhadapan pas lebih bagus. Gigi-gigi tumbuh dengan posisi berurutan dan rapi. Dahi harus menonjol dan membentuk lengkung simetris yang menghubungkan hidung dan tanduk. Kedua tanduk berwarna gelap, bundar, kokoh, panjang sedang, terletak tidak begitu berjauhan dan melengkung bertahap ke belakang sebelum membelok simetris keluar. Kedua telinga terjuntai lemas ke bawah dengan panjang sedang.
Penyimpangan: Dahi cembung, tanduk lurus, rahang terlalu runcing, rahang atas atau rahang bawah terlalu menonjol ke depan.
Diskualifikasi: Mata biru, telinga berlipat memanjang, telinga pendek, rahang atas menonjol ke depan atau rahang bawah menonjol ke depan lebih dari ¼ inci.

Leher dan Badan Bagian Depan
Panjang leher sedang dan sebanding dengan panjang badan. Badan bagian depan padat, berotot, dan ruas kaki depan terhubung dengan baik dan berpadu mulus dengan badan. Dada lebar. Bahu padat berisi, sangat serasi dengan bagian badan lainnya serta berpadu mulus dan terhubung dengan gumba. Gumba lebar, bundar dan tidak tajam. Kedua kaki depan kokoh, kedudukan pas dan sebanding dengan kedalaman badan. Sendi pasterna kokoh dan kuku berbentuk normal dan segelap mungkin.
Penyimpangan: Leher terlalu pendek atau terlalu kecil; bahu terlalu goyah dan terdapat cacat atau kelainan struktural pada kaki depan, otot, tulang, sendi, atau kuku yang meliputi tapi tidak terbatas pada lutut goyah, kaki bengkok, kuku bengkok ke luar atau ke dalam, kuku renggang, lutut kaku, kaki cekung, pasterna lurus atau lemah.

Badan
Badan padat berisi: panjang, dalam dan lebar. Rusuk memgembang. Pinggang berotot, lebar dan panjang. Garis punggung relatif lurus dan kokoh dan bahu bundar dengan otot padat berisi dari bahu sampai pinggul.
Penyimpangan: Badan cekung atau punggung melengkung; dada terlalu sempit atau dangkal atau rata; bahu lemah; punggung dan pinggang kurang berotot, lingkar dada pendek.

Badan Bagian Belakang
Punggung belakang lebar, panjang dan bulat. Pinggul dan paha berotot dan bulat. Pangkal ekor berada di tengah dan lurus. Bagian ekor lainnya melengkung ke atas atau ke samping. Kaki kokoh dan membentuk poros lurus dari pinggul (tulang duduk) melalui sendi kaki belakang, sendi kuku, dan pasterna. Kuku berbentuk normal dan segelap mungkin.
Penyimpangan: Pasterna lemah, pasterna lurus, punggung bagian belakang terlalu pipih, sendi kaki belakang terlalu bengkok, sendi kaki kedua kaki belakang terlalu berjauhan, sendi kaki belakang terlalu lurus.
Diskualifikasi: Ekor miring

Kulit dan Bulu
Kulit longgar dan lentur. Kelopak mata dan bagian lainnya yang tidak berbulu berpigmen. Bagian tak berbulu di bawah ekor minimal 75% berpigmen: berpigmen 100% lebih disukai. Bulu pendek mengkilap sangat disukai. Sedikit bulu halus dapat diterima selama musim dingin, terutama di daerah berhawa dingin.
Penyimpangan: Bulu terlalu panjang atau terlalu kasar.
Diskualifikasi: Pigmentasi kulit tidak memadai.

Organ Reproduksi Kambing Boer Betina
Kambing Boer betina memiliki ambing berbentuk normal yang menempel sempurna dengan jumlah puting fungsional masing-masing tidak lebih dari dua di kiri dan di kanan. Puting bercabang berupa dua puting dan lubang terpisah di mana minimal 50% dari badan puting terpisah masih dapat ditolerir tapi puting tak bercabang lebih disukai. Yang paling penting adalah ambing terletak sedemikian rupa sehingga anak kambing dapat menyusu tanpa bantuan. Kambing betina yang telah melahirkan atau yang sedang bunting harus sudah melahirkan atau bunting pada umur 24 bulan.
Penyimpangan: Ketidaknormalan atau kelainan ambing dan puting mencakup tapi tidak terbatas pada puting terlalu besar atau bulat dan ambing menggantung.
Diskualifikasi: Puting berdempet, puting bengkok atau kambing betina belum pernah melahirkan atau memperlihatkan tanda-tanda kebuntingan pada umur 24 bulan.

Organ Reproduksi Kambing Boer Jantan
Kambing Boer jantan memiliki dua testis besar berbentuk normal, fungsional, dan berukuran sama pada satu skrotum dengan belahan tidak lebih dari 2 inci pada ujung skrotum.
Diskualifikasi: Testis tunggal. Testis terlalu kecil. Testis tidak normal atau sakit; belahan skrotum terlalu panjang.

Kolorasi atau Pola Warna
Kambing Boer umumnya berbulu putih pada badan dan berbulu merah pada bagian kepala. Namun demikian, tidak ada kolorasi atau pola warna bulu yang lebih disukai.

 

Kambing Boerawa

Sebagaimana tersirat dari namanya, kambing Boerawa merupakan kambing hasil perkawinan silang antara kambing Boer jantan dan kambing Etawa atau Peranakan Etawa betina. Perpaduan antara karakteristik kambing Boer yang badannya montok, besar, dan panjang namun berkaki pendek, dan karakteristik kambing Etawa atau Peranakan Etawa yang badannya langsing, tinggi, dan panjang, menghasilkan kambing Boerawa yang badannya montok, besar, panjang, dan tinggi. 

 

Perbedaan Kambing dan Domba

Apa perbedaan kambing dan domba? Sebagai orang awam, kita biasanya dengan cepat mengemukakan dua perbedaan utama antara kambing dan domba. Perbedaan utama antara kambing dan domba adalah pada bulu dan tanduknya. Memang, dua perbedaan inilah yang paling mudah dikenali dengan pengamatan langsung. Bulu kambing lurus, sedangkan bulu domba keriting. Tanduk kambing lurus atau agak melengkung ke belakang, sementara tanduk domba melengkung ke belakang dan berpilin. 

Namun demikian, dari kajian yang lebih bersifat ilmiah, kambing dan domba tidak hanya berbeda dalam dua aspek saja. Secara fisik, daging kambing dan domba sama saja. Karena itu, orang awam biasanya tidak tahu mana daging kambing dan mana daging domba. Sebenarnya, daging kambing berwarna lebih merah dan aromanya lebih tajam daripada daging domba. Daging kambing lebih enak dan gurih daripada daging domba berkat perbandingan antara protein dan lemak yang tinggi, yaitu 1 banding 8. Bandingkan dengan daging sapi yang hanya 1 banding 3. Lemak daging kambing juga lebih keras dan putih dibandingkan dengan lemak daging domba.

Domba juga lebih suka bergerombol dibandingkan dengan kambing. Domba biasanya merumput pada pagi dan sore hari. Sebaliknya, kambing merumput sepanjang hari. Selanjutnya, siklus birahi domba 16 sampai 17 hari, sedangkan kambing 19 sampai 21 hari. Lama birahi domba 30 jam, sementara kambing 24 sampai 36 jam. Birahi pertama domba terjadi pada umur 8 sampai 10 bulan, sedangkan kambing pada umur 10 sampai 12 bulan. Perkawinan pertama domba terjadi pada umur 18 bulan, sementara kambing pada umur 10 sampai 12 bulan. Kalau masa bunting domba berlangsung selama 141 sampai 159 hari, masa bunting kambing berlangsung selama 147 hari. Yang terakhir, kadar lemak jenuh atau lemak yang merusak kesehatan pada daging kambing lebih rendah daripada kadar lemak jenuh daging domba. Mungkin hal inilah yang membuat harga domba lebih murah daripada harga kambing.

//

 

Sistem Peternakan Kambing

Berdasarkan cara peternakannya, kambing dapat dipelihara dengan sistem ekstensif, semi-intensif, atau intensif. Pada dasarnya, ketiga cara ini boleh dilakukan oleh peternak. Namun demikian, kalau peternakan kambing tersebut dijadikan sebagai mata pencarian, sistem intensif lebih cocok diterapkan. Sebaliknya, apabila peternakan kambing tersebut hanya dijadikan sebagai usaha sambilan, sistem semi-intensif atau ekstensif sudah cukup memadai. Tentu saja, keberhasilan dari penerapan ketiga sistem peternakan tersebut tergantung pada kesungguhan dan perhatian peternak terhadap kambing peliharaannya. Kalau kambingnya dipelihara dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian, insyaallah peternakan kambing tersebut akan berhasil. 

Dalam sistem peternakan ekstensif boleh dikatakan peternak tidak melakukan apa-apa terhadap kambing ternaknya. Kambing yang diternakkan dilepas bebas begitu saja dan dibiarkan mencari makan sendiri di padang rumput atau tempat-tempat lainnya yang banyak sumber pakannya. Peternak juga tidak membuat kandang sebagai tempat berlindung bagi ternaknya. Ketika menjelang malam, kambing-kambing pulang dan beristirahat di pekarangan rumah peternak atau tidur di emperan rumah kalau hari hujan. Perkawinan dan proses kelahiran kambing berlangsung secara alami tanpa campur tangan peternak.

Peternakan kambing dengan sistem semi-intensif adalah kegiatan pemeliharaan ternak kambing dengan penggembalaan yang dilakukan secara teratur. Selain itu, peternak juga membuat kandang sebagai tempat berlindung dan tempat tidur kambingnya pada malam hari. Dalam sistem ini peternak sudah mulai memperhatikan tanda-tanda birahi dan melahirkan kambing betinanya. Sekitar jam sembilan pagi sampai jam empat atau jam lima sore kambing dibawa ke padang rumput untuk digembalakan. Dengan demikian, masa penggembalaan berlangsung sekitar delapan jam setiap hari kalau cuaca cerah. Kambing dilepas dari kandang sekitar jam sembilan pada saat embun sudah mengering dari rerumputan. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kembung akibat kambing memakan rerumputan yang masih basah. Selain rerumputan, kambing juga mulai diberi makanan tambahan sebagai penguat seperti dedak padi, ampas tahu, ubi jalar, ubi kayu serta daun-daunan seperti daun lamtoro atau petai cina, daun nangka, atau daun mangga. Garam mineral dan gula merah juga diberikan sebagai campuran pada air minum kambing atau bisa juga dicampur dengan rumput atau pakan penguat.

Penerapan sistem intensif dalam peternakan kambing menuntut perhatian penuh peternak karena kambing sepenuhnya terkurung di dalam kadang. Di dalam kandang kambing dipisahkan menurut jenis kelaminnya. Dengan kata lain, kambing jantan dan kambing betina dipisahkan. Kambing yang masih kecil dan kambing dewasa juga dipisahkan. Dalam hal ini peternak harus melakukan kegiatan rutin dan kegiatan insidental. Kegiatan rutin yang dilakukan setiap hari meliputi: 1) pembersihan kandang, 2) pengumpulan tahi dan kencing kambing, dan 3) penyediaan pakan hijauan, pakan tambahan, dan air minum. Kegiatan insidental meliputi: 1) pemotongan kuku kambing, 2) kastrasi atau pengebirian, 3) pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat, 4) pemberian tanda pengenal, 5) pemotongan tanduk, dan 6) vaksinasi.

Meskipun demikian, peternak dapat melakukan improvisasi dalam penerapan sistem peternakan kambingnya. Misalnya, beberapa kegiatan yang biasa dilakukan dalam sistem peternakan intensif seperti pemeriksaan kesehatan, pemberian obat, dan vaksinasi bisa saja dilakukan dalam peternakan yang menerapkan sistem semi-intensif. Saya sendiri menerapkan sistem semi-intensif namun juga melaksanakan beberapa kegiatan yang biasanya dilakukan dalam sistem peternakan intensif seperti pemeriksaan kesehatan, pemberian obat, vaksinasi, dan pemberian pakan tambahan serta daun-daunan. Banyak peternak berkesimpulan bahwa kambing yang digembalakan akan cenderung lebih gemuk dan sehat. Mungkin mirip juga dengan manusia – kalau jarang bergerak dan berolah raga badan jadi kurang sehat dan bugar.:)

 

Kambing Boerawa dan Kambing Boerka: Alternatif Kambing Boer yang Masih Sangat Mahal

Para peternak dan pakar peternakan sepakat menyimpulkan bahwa kambing tipe pedaging sejati adalah kambing Boer. Kambing Boer memiliki badan yang bulat montok, panjang, dalam, dan lebar. Selain itu, kadar lemak jahat atau lemak jenuh daging kambing Boer juga paling rendah dibandingkan dengan daging hewan ternak lainnya. Menurut data Asosiasi Kambing Boer Amerika (http://www.abga.org/nutritional.php), kadar lemak jenuh daging kambing Boer hanya 0,79 gr, daging ayam 1,1 gr, daging sapi 6,8 gr, daging domba 7,3 gr, dan daging babi 8,3 gr. Singkatnya, daging kambing Boer sangat empuk, enak, dan sehat. 

Sayangnya, harga kambing Boer di Indonesia saat ini masih sangat jauh di atas daya beli peternak Indonesia. Menurut informasi dari salah satu perusahaan peternakan di Lampung, harga kambing Boer jantan dengan tinggi 55 cm dan berat 50 kg adalah Rp8 – Rp20 juta per ekor; kambing Boer betina dengan tinggi 55 cm dan berat 35 kg Rp6 – Rp15 juta per ekor. Harga yang luar biasa mahal. Dengan uang enam jutaan rupiah, seorang peternak di Padang sudah bisa membeli seekor bakalan sapi Simental umur enam bulan yang diantar langsung ke lokasi.

Walaupun begitu, jangan bersedih dulu para peternak maupun calon peternak Indonesia. Sebagai pereda rasa kecewa terhadap harga kambing Boer yang overdosis tsb, kita dapat memelihara kambing Boerawa dan/atau kambing Boerka. Kambing Boerawa adalah kambing hasil persilangan antara kambing Boer jantan dan kambing Etawa atau Peranakan Etawa betina. Kambing Boerka adalah kambing hasil perkawinan silang kambing Boer jantan dan kambing Kacang betina.

Menurut para pakar peternakan, kambing Boerawa dan kambing Boerka mewarisi semua karakteristik unggul kambing Boer. Tentu saja, persentase keunggulan karakteristik tersebut tidak sama dengan kambing kambing Boer murni. Namun demikian, karakteristik kedua kambing hasil persilangan ini jauh lebih unggul dibandingkan dengan karakteristik kambing induknya.

Saya sendiri belum pernah melihat langsung kambing Boerawa. Walaupun begitu, saya pernah melihat langsung kambing Boerka jantan di peternakan tempat saya membeli bibit kambing tempo hari. Saya dan teman saya terkagum-kagum melihatnya. Kambing Boerka jantan yang kami lihat bertanduk terentang panjang dan badan yang tinggi, besar, dan panjang.

Sayang, harganya Rp13 juta seekor. Harga yang terlalu mahal bila dibandingkan dengan informasi yang saya dapat dari sebuah perusahaan peternakan di Lampung. Menurut manajer perusahaan tersebut, kambing Boerka jantan yang mereka jual berharga Rp2,5 sampai Rp6 juta per ekor dengan tinggi badan minimal 55 cm dan berat badan minimal 30 kg; kambing Boerka betina Rp1,5 sampai Rp3 juta seekor dengan tinggi badan minimal 55 cm dan berat badan 25 kg. Harga kambing Boerawa sama dengan harga kambing Boerka. Memang, petugas di peternakan tersebut mengatakan kambing yang kami lihat itu kambing Boer, padahal saya sudah tahu karakteristik kambing Boer dari Internet.

Sehubungan dengan pengalaman saya di atas, saya menyarankan agar Anda yang baru mau membuka usaha peternakan berusaha mendapatkan dulu informasi selengkap-lengkapnya mengenai harga maupun karakteristik kambing yang akan diternakkan supaya tidak tertipu oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Karena modal sangat terbatas, akhirnya saya mulai usaha peternakan skala rumah tangga saya dengan membeli seekor kambing jantan dan empat ekor kambing betina Peranakan Etawa. Kalau sudah dapat modal yang cukup memadai, saya akan membeli paling tidak sepasang kambing Boerawa dan/atau kambing Boerka. Kalau modal sudah bertambah lagi, baru beli kambing Boer murni.

Meskipun demikian, saya juga berencana menambah koleksi usaha peternakan saya dengan kambing Kacang supaya tersedia pilihan yang cukup lengkap bagi calon pembeli nanti. Kalau semua keinginan ini terwujud, di peternakan saya nanti akan tersedia enam jenis kambing – Kacang, Peranakan Etawa, Etawa, Boerawa, Boerka, dan Boer.

 

Kambing Unggul

Kambing dapat dimanfaatkan daging dan susunya. Kambing yang diternakkan dengan tujuan utama produksi daging dinamakan kambing pedaging; kambing yang diternakkan dengan tujuan utama produksi susu dinamakan kambing perah. Untuk meningkatkan produksi daging kambing, peternak biasanya memilih kambing yang unggul dalam menghasilkan daging. Begitu pula, untuk meningkatkan produksi susu kambing, peternak memilih kambing yang unggul dalam menghasilkan susu. 

Berikut ini uraian singkat jenis-jenis kambing pedaging dan kambing perah.

Kambing Pedaging
1. Kambing Angora
Kambing Angora berasal dari daerah Angora di Anatolia, dekat Ankara, yang sekarang jadi ibu kota Turki. Kambing ini suka meramban dan mendapatkan sebagian besar pasokan makanannya dari daun-daun dan ranting pohon. Namun demikian, bila tersedia, kambing ini juga makan rumput. Kambing Angora sedikit lebih kecil daripada domba pedaging. Saat lahir, anak kambing Angora berbobot 2 sampai 4 kilogram; pada usia 6 bulan, 18 sampai 25 kilogram; dan pada usia 16 sampai 18 bulan, 28 sampai 33 kilogram. Kambing Angora betina dewasa berbobot 38 sampai 50 kilogram, dan kambing Angora jantan dewasa berbobot 43 sampai 63 kilogram. Kambing Angora sangat kurang prolifik dibandingkan dengan domba dan banyak kambing betinanya yang mandul. Masa kebuntingan kambing Angora sekitar 148 hari.

2. Kambing Achondroplastik
Kambing ini merupakan kambing kecil berkaki pendek. Pada usia dewasa, tinggi kambing ini 50 cm, dan beratnya sekitar 20 kg. Kambing Achondroplastik terdapat di kawasan hutan dan savana Afrika Barat dan Afrika Tengah. Kambing ini sangat cocok diternakkan di daerah tropis. Meskipun termasuk kambing kerdil, kambing ini menghasilkan daging dengan kualitas baik. Dengan pemeliharaan yang telaten, kambing ini dapat menghasilkan anak kembar dua atau tiga. Perkawinan kambing jenis ini dapat terjadi sepanjang tahun. Sayangnya, pertumbuhan tubuhnya lambat.

3. Kambing Barbari
Kambing Barbari juga termasuk dalam kategori kambing kecil. Kambing jenis ini banyak terdapat di daerah Sind, Pakistan. Kambing Barbari dewasa beratnya berkisar 20 sampai 30 kilogram. Kambing Barbari juga termasuk kambing prolifik, yaitu setiap kelahiran biasanya beranak kembar 2 sampai 3 ekor. Sifat prolifiknya ini membuat kambing ini diternakkan sebagai kambing pedaging.

4. Kambing Benggala Hitam
Kambing Benggala hitam adalah jenis kambing kerdil lainnya. Kambing ini banyak terdapat di Assam dan kawasan utara Bangladesh. Kambing jantan dewasa berbobot hanya 13 kg dan betina 9 kg.

5. Kambing Bligon
Kambing Bligon disebut juga kambing Gumbolo atau Jawa Randu. Kambing ini merupakan hasil perkawinan silang antara kambing Etawa dan kambing Kacang. Kambing hasil persilangan ini lebih mirip kambing Kacang. Moncongnya lancip, telinganya tebal dan lebih panjang daripada kepalanya, lehernya tidak bersurai, tubuhnya terlihat tebal, dan bulu tubuhnya kasar.
Sebagaimana kambing Kacang, kambing Bligon sangat mudah pemeliharaannya karena jenis pakan apa pun dimakannya, termasuk rumput lapangan. Kambing ini cocok dipelihara sebagai kambing potong karena anak yang dilahirkan cepat besar.

6. Kambing Boer
Untuk uraian mengenai kambing Boer, silakan klik Gambaran Umum Kambing Boer

7. Kambing Boerawa
Sesuai dengan namanya, kambing Boerawa merupakan hasil perkawinan silang antara kambing jantan Boer dan kambing betina Etawa atau Peranakan Etawa. Usaha persilangan kedua jenis kambing ini sudah pernah dilakukan di Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan melalui perkawinan alami. Namun demikian, usaha perkawinan silang alami di kedua provinsi ini kurang berhasil dibandingkan dengan usaha perkawinan silang melalui inseminasi buatan di Lampung. Karena perkembangannya yang pesat dan untuk mengangkat citra provinsi Lampung dalam merintis perkawinan silang kedua jenis kambing ini, nama kambing Boerawa kemudian diganti dengan Saburai.

Para peternak di Lampung sangat berminat untuk memelihara kambing Saburai karena beberapa keunggulannya. Selain sosoknya yang lebih besar, kambing ini juga memiliki tingkat produksi dan mutu daging yang lebih baik dibandingkan dengan kambing Etawa atau Peranakan Etawa. Kadar kolesterol kambing ini rendah dan dagingnya empuk dan enak. Tingkat pertumbuhannya juga lebih cepat, sementara pemeliharaan dan perawatannya tidak begitu berbeda dengan kambing lokal. Saat lahir berat rata-rata kambing Saburai 2,5 sampai 3,5 kg. Sedangkan kambing Kacang 1,6–2,0 kg dan PE 2,4–2,6 kg; berat sapih kambing Saburai 14–20 kg, kambing Kacang hanya 7–8 kg, dan PE 9–11 kg. Perbedaan ini semakin jelas terlihat pada usia 6-7 bulan. Berat kambing Saburai mencapai 30–35 kg, kambing Kacang 10–12 kg, dan PE 15–20 kg. Setelah 1 tahun, kambing Saburai bisa mencapai bobot 50–60 kg, kambing Kacang 24–27 kg, dan kambing PE 40-60 kg.

8. Kambing Kreolo
Kambing Kreolo adalah ternak pedaging yang banyak dipelihara di Amerika Latin dan Tengah. Kambing ini mampu hidup di daerah yang sangat gersang. Kambing ini berbulu tipis, pendek, berwarna hitam atau coklat, dan sering terdapat bercak putih. Tanduknya melengkung, dan telinganya pendek dan tegak. Kambing jantan berjanggut, sedangkan kambing betina tidak berjanggut. Tinggi gumba kambing Kreolo jantan 75 cm, dan kambing betina 65 cm. Bobot kambing dewasa berkisar 40 sampai 60 kg. Satu kelahiran menghasilkan anak 1 sampai 2 ekor.

9. Kambing Gaddi
Kambing Gaddi dapat diternakkan untuk mendapatkan daging atau susunya. Ini tergolong kambing berbulu panjang. Kambing ini disebut juga kambing Himachal Pradesh. Kambing ini banyak ditemukan di kawasan India Utara dan Pakistan.

10. Kambing Kacang
Kambing Kacang adalah kambing asli Indonesia. Kambing ini sangat sering melahirkan anak kembar. Dengan kata lain, kambing ini masuk klasifikasi kambing yang sangat prolifik. Satu kelahiran bisa menghasilkan 2 sampai 3 ekor anak. Kambing ini berkembang biak sepanjang tahun dan pemeliharaannya sangat sederhana. Kambing ini tahan derita, lincah, tersebar luas, dan mampu beradaptasi dengan baik di berbagai lingkungan.

11. Kambing Kashmir
Kambing Kashmir merupakan kambing yang hidup di daerah pegunungan Asia Tengah seperti Tibet, Mongolia Dalam, Kashmir, Iran, Turki, Kurdistan, Khirgiztan, dan Rusia. Kambing ini dapat hidup di daerah gersang dengan ketinggian 3.600 sampai 4.200 di atas permukaan laut. Kambing Kashmir jantan dewasa sekitar 60 kg dan kambing Kashmir betina 40 kg. Kambing ini merupakan keturunan langsung kambing liar Capra Falconeri. Kambing gembrong yang terdapat di Bali diduga merupakan keturunan kambing Kashmir. Karena bulunya yang lebat, selain menghasilkan daging, kambing ini juga menghasilkan bulu yang dapat diolah sebagai bahan pakaian.

12. Kambing Kerdil Cina Selatan
Kambing kerdil Cina Selatan merupakan kambing kerdil yang hidup di daerah tropis dan lembab. Kambing jantan dewasa berbobot sekitar 30 kg, dan bobot kambing betina dewasa hanya 25 kg. Meskipun ukuran badannya kecil, kambing ini sangat sering melahirkan anak kembar dua.

13. Kambing Kecil Afrika Timur
Sesuai dengan namanya, kambing ini hdiup di daerah Afrika Timur dan banyak dipelihara sebagai ternak pedaging dan penghasil kulit. Penampilan fisik kambing ini mirip kambing Kacang, yang merupakan kambing asli Indonesia. Kambing ini berbulu pendek dengan berbagai corak warna dan bertanduk kecil. Kambing dewasa beratnya sekitar 30 kg. Kambing ini juga sangat prolifik.

14. Kambing Maxoto
Kambing ini juga dinamakan kambing Nungfing. Kambing Maxoto banyak diternakkan di kawasan timur laut Brazil. Warna bulunya coklat muda atau coklat kelabu kuning dengan garis-garis hitam di punggung dan perut. Bulu muka dan kakinya berwarna hitam. Kambing Maxoto dewasa berbobot sekitar 32 kg. Induk kambing betina bisa melahirkan tiga kali dalam dua tahun dan hampir 90% selalu melahirkan anak kembar.

15. Kambing Sahel
Kambing Sahel paling cocok dipelihara di kawasan padang pasir yang gersang seperti Sudan dan Afrika Barat. Kambing ini tahan panas dan lingkungan yang sangat gersang seperti kawasan sabana di pinggiran gurun Sahara. Kambing Sahel berbulu pendek tapi halus. Kambing ini merupakan ternak penghasil daging dan kulit bermutu tinggi.

16. Kambing Salt Range
Kambing ini terdapat di kawasan barat laut Pakistan, Rawalpindi, dan Mianwali. Kambing ini dipelihara sebagai ternak penghasil daging dan bulu yang panjang. Berat karkas kambing Salt Range berumur satu tahun mencapai 15-20 kg.

17. Kambing Sirli
Kambing ini banyak ditemukan di kawasan pegunungan barat laut Pakistan. Kambing Sirli dewasa sekitar 35 kg. Bulunya yang panjang bisa mencapai 25 cm.

18. Kambing Somalia
Hampir semua kambing Somalia berbulu putih halus. Kambing ini biasanya diternakkan sebagai penghasil daging dan kulit. Kulitnya tipis namun bermutu tinggi. Kisaran bobot kambing dewasa adalah 20 sampai 30 kg. Seperti ditunjukkan namanya, kambing ini banyak terdapat di Somalia, Afrika Timur.

19. Kambing Spanyol
Kambing Spanyol atau kambing La Mancha berasal dari Spanyol. Ciri khas kambing ini adalah telinganya sangat pendek atau hampir tidak berdaun telinga. Kambing Spanyol jantan dewasa berkisar 55 sampai 80 kg dan kambing Spanyol betina 35 sampai 40 kg. Bulunya pendek dan warnanya beraneka ragam. Kambing ini sangat tangguh dan mampu beradaptasi di berbagai lingkungan yang buruk. Tujuan utama peternakan kambing Spanyol adalah produksi daging. Kambing ini dapat berkembang biak pada musim gugur sampai musim dingin sepanjang tahun. Dengan demikian, kambing Spanyol dapat beranak dan menghasilkan daging sepanjang tahun di daerah berhawa dingin.

Kambing Perah
1. Kambing Etawa
Kambing Etawa berasal dari daerah Jamnapari, India. Karena itu, kambing ini disebut juga kambing Jamnapari. Kambing Etawa paling terkenal di Asia Tenggara. Di negara asalnya, kambing ini tergolong kambing dwiguna – penghasil susu dan daging. Postur tubuhnya besar, telinganya panjang menggantung, mukanya cembung, dan bulu di paha belakang sangat lebat. Kambing Etawa jantan bisa mencapai bobot 90 kg, dan kambing betinanya hanya 60 kg. Produksi susu kambing Etawa sangat tinggi, yaitu 235 kg per masa laktasi (261 hari). Pada masa puncak laktasinya, produksi susu kambing ini mencapai 3,8 kg per hari.

Karena tingkat produksi susu dan tingkat pertumbuhannya yang tinggi, serta kemampuan adaptasi yang sangat baik terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim, kambing ini sering digunakan untuk memperbaiki mutu kambing lokal di suatu negara. Usaha perbaikan mutu genetik kambing lokal di Indonesia menghasilkan kambing Peranakan Etawa (PE). Pusat produksi terbesar kambing PE adalah Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah.

Walaupun begitu, sejak beberapa tahun belakangan ini telah muncul pusat peternakan kambing PE baru seperti kecamatan Gumelar, Banyumas, Jawa Tengah dan Banyuwangi, Jawa Timur. Bogor, Sukabumi, Bandung, Lampung, dan Palembang juga mulai berkembang menjadi pusat peternakan baru kambing PE.

2. Kambing Alpen
Seperti tersirat dari namanya, kambing Alpen berasal dari pegunungan Alpen di Austria dan Perancis. Kebanyakan kambing yang tersebar di kawasan Eropa merupakan keturunan kambing Alpen. Kambing Alpen jantan dapat mencapai bobot 90 kg. Kambing Alpen betina dewasa berbobot sekitar 55 kg dan dapat menyusui anaknya dengan baik. Kambing ini dapat menghasilkan susu 4,5 kg per hari, terutama pada masa laktasi kedua dan ketiga. Kambing ini mampu menyesuaikan diri dengan baik di daerah tropis beriklim kering.

3. Kambing Saanen
Kambing Saanen berasal dari lembah Saanen, Swis bagian barat. Ini adalah jenis kambing paling besar di Swis. Karena peka terhadap sinar matahari, kambing ini tidak cocok diternakkan di daerah tropis. Telinga kambing ini tegak dan mengarah ke depan, bulunya umumnya putih dan kadang-kadang terdapat bercak-bercak hitam di bagian hidung, telinga, atau ambingnya.

Kambing tak bertanduk ini juga termasuk kambing dwiguna – penghasil daging dan susu. Kambing ini diternakkan sebagai kambing pedaging karena yang jantan bertubuh besar. Kambing ini juga dipelihara sebagai kambing perah karena mampu menghasilkan susu 740 kg pada masa laktasi yang berlangsung selama 250 hari. Peranakan kambing ini dapat ditemukan di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

4. Kambing Toggenburg
Kambing Toggenburg berasal dari lembah Toggenburg, timur laut Swis. Telinganya tegak dan menghadap ke depan, hidung agak cembung, warna bulu merah tua atau coklat dengan bercak putih di telinga atau bagian atas mata. Kambing jantannya dapat mencapai bobot 80 kg dan betinanya 60 kg. Kulit dan bulunya sangat halus, dan produksi susunya mencapai 600 kg selama 267 hari masa laktasi.

5. Kambing Anglo-Nubia
Kambing ini berasal dari daerah Nubia di timur laut Afrika. Kambing ini sekarang banyak diternakkan di Mesir, Afrika Selatan, dan Abesinia. Telinga kambing ini menggantung, ambing besar, dengan bulu berwarna hitam, merah, coklat, putih, atau kombinasi warna-warna tersebut. Kambing Anglo-Nubia jantan bisa mencapai bobot 90 kg dan kambing betinanya 70 kg. Produksi susunya 700 kg selama 237 masa laktasi.

6. Kambing Beetal
Kambing Beetal banyak dipelihara di daerah Punjab, Rawalpindi, dan Lahore. Kambing ini diduga sebagai hasil perkawinan silang antara kambing Etawa dan kambing lokal karena ciri fisiknya sangat mirip dengan kambing Etawa. Produksi susunya 190 kg selama 180 hari masa laktasi.

Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa untuk kambing penghasil daging, kambing Boer dan kambing Boerawa atau Saburai menempati peringkat pertama dan kedua. Dari segi produksi susu, kambing Alpen dan kambing Etawa atau Peranakan Etawa menempati peringkat pertama dan kedua.

Di Indonesia, kambing Etawa dan Peranakan Etawa merupakan kambing andalan peternak untuk produksi susu. Kambing Alpen tidak populer mungkin karena kambing tersebut tidak mampu beradaptasi dengan iklim Indonesia yang tropis. Harga kambing Etawa jantan dengan bobot minimal 45 kg berkisar Rp4 sampai Rp10 juta per ekor. Harga kambing Etawa betina berbobot minimal 30 kg berkisar Rp2,5 sampai Rp8 juta per ekor. Kalau mau yang lebih murah, peternak dapat membeli kambing Peranakan Etawa atau kambing Jawa Randu saja. Walaupun kambing PE dan JR sama-sama kambing hasil perkawinan silang antara kambing Etawa dan kambing Kacang, kambing PE lebih mirip kambing Etawa namun ukuran tubuhnya sedikit lebih kecil, dan kambing JR lebih mirip kambing Kacang. Kambing PE/JR jantan berbobot minimal 35 kg dijual dengan harga Rp1,5 sampai Rp3 juta per ekor. Kambing PE/JR betina berbobot minimal 25 kg dijual dengan harga Rp900 ribu sampai Rp1,5 juta per ekor.

Kambing Boer dan kambing Boerawa atau kambing Saburai juga mulai menjadi favorit para peternak dalam produksi daging. Sayangnya, harga kambing Boer masih sangat mahal untuk ukuran peternak Indonesia. Harga kambing pedaging paling unggul ini berkisar Rp8 sampai Rp20 juta per ekor kambing Boer jantan berbobot minimal 50 kg. Harga per ekor kambing Boer betina dengan bobot minimal 35 kg berkisar Rp6 sampai Rp15 juta. Harga yang luar biasa mahal ini mungkin disebabkan kenyataan bahwa populasi kambing ini di Indonesia belum banyak dan para importir belum kembali modal atau belum mendapat keuntungan memadai dari uang yang telah mereka keluarkan untuk mengimpor langsung kambing Boer dari Australia.

Namun demikian, bagi rekan-rekan peternak, termasuk saya sendiri:), yang berminat memelihara kambing Boer namun belum punya modal memadai, kambing Boerawa bisa jadi alternatif karena harganya jauh lebih terjangkau. Harga kambing Boerawa jantan berbobot minimal 30 kg berkisar Rp2,5 sampai Rp6 juta per ekor. Harga kambing Boerawa betina berbobot minimal 25 kg berkisar Rp1,5 sampai Rp3 juta per ekor. Kalau kambing Boerawanya sudah berkembang biak dan banyak, hasil penjualannya bisa kita gunakan untuk membeli kambing Boer.

Saya sendiri sekarang baru mulai beternak dengan lokasi kandang di Sungai Bangek, pinggiran kota Padang, dan populasi kambing awal lima ekor – satu penjantan PE, dua betina PE, dan dua betina Jawa Randu. Sebenarnya, saya mau mulai dengan beternak kambing Boerawa. Sayangnya, jenis kambing Boerawa ini belum ada di peternakan tempat saya membeli kelima bibit kambing tersebut. Menurut informasi yang saya dapat, kambing Boerawa banyak diternakkan di Lampung, khususnya kabupaten Tanggamus. Rencananya, saya mau datang langsung ke peternakan kambing Boerawa di Tanggamus untuk menambah pengetahuan dan keterampilan langsung dari peternak di sana sebelum membeli kambing Boerawa.

Gambaran Umum Kambing Boer

Kambing Boer adalah salah satu kambing unggul dan pertama kali dibudidayakan di Afrika Selatan pada tahun 1900-an untuk produksi daging. Nama kambing ini sendiri, Boer, adalah bahasa Belanda yang berarti petani. Kambing Boer umumnya bertubuh putih dan kepala warna coklat. Kambing ini bertubuh lebar, panjang, berkaki pendek, berhidung cembung, dan bertelinga panjang menggantung. Kambing unggul ini terkenal jinak, pertumbuhannya cepat, dan tingkat kesuburannya tinggi. Kambing Boer jantan dewasa berumur 2-3 tahun dapat mencapai bobot antara 110-135 kg, dan kambing Boer betina dewasa antara 90-100 kg. Pertambahan berat tubuh rata-rata 0,02-0,04 kg per hari. Persentase daging pada karkas kambing Boer jauh lebih tinggi dan mencapai 40%-50% dari berat tubuhnya.

Kambing Boer jantan bertubuh kokoh dan kuat. Pundaknya luas dan bagian belakangnya dipenuhi dengan otot yang padat. Kambing Boer dapat hidup pada suhu lingkungan yang ekstrim, mulai dari suhu sangat dingin (-25 derajat C) hingga sangat panas (43 derajat C) dan mudah beradaptasi terhadap perubahan suhu lingkungan. Kambing ini juga tahan terhadap penyakit dan dapat hidup di kawasan semak belukar, lereng gunung yang berbatu atau di padang rumput. Secara alamiah kambing ini adalah hewan yang suka meramban sehingga lebih menyukai daun-daunan, rumput berdaun lebar, dan tanaman semak daripada rumput biasa.

Kambing Boer jantan senang sekali kalau digaruk dan digosok di bagian belakang telinga, punggung dan sisi perutnya. Kambing jenis ini mudah ditangani dengan memegang tanduknya dan juga dapat dilatih dituntun dengan tali. Namun demikian, sebaiknya jangan mendorong bagian depan kepalanya karena mereka akan menjadi agresif.

Kambing Boer jantan tidak mengenal musim kawin. Dengan kata lain, kambing ini bisa kawin di bulan apa saja sepanjang tahun. Baunya yang tajam sangat memikat kambing betina. Seekor pejantan dapat aktif kawin pada umur 7-8 bulan, tetapi disarankan agar satu pejantan tidak melayani lebih dari 8-10 betina sampai pejantan itu berumur sekitar satu tahun. Boer jantan dewasa (2-3 tahun) dapat melayani 30 hingga 40 betina. Disarankan agar semua pejantan dipisahkan dari betina pada umur 3 bulan agar tidak terjadi perkawinan yang tidak direncanakan. Semangat kawin kambing ini berkisar 7-8 tahun.

Kambing Boer betina tumbuh seperti Boer jantan tapi sangat feminin dengan kepala dan leher ramping. Kambing Boer betina juga sangat jinak. Kambing betina dapat dikawinkan pada umur 10-12 bulan. Masa kebuntingan kambing ini 5 bulan dan mampu melahirkan anak tiga kali dalam dua tahun. Betina berumur satu tahun dapat menghasilkan 1-2 anak. Setelah beranak pertama, kambing Boer betina biasanya akan beranak kembar dua, tiga, bahkan empat. Kambing Boer betina mempunyai dua hingga empat puting tapi kadang-kadang tidak semuanya menghasilkan susu. Sebagai ternak yang tidak mengenal musim kawin, kambing ini dapat dikawinkan lagi tiga bulan setelah melahirkan. Birahinya dapat dideteksi dari ekor yang bergerak-gerak cepat. Boer betina mampu menjadi induk hingga selama 5-8 tahun. Baik kambing Boer betina maupun jantan keduanya bertanduk.

 

DAGING KAMBING

 

 

 

Kriteria Daging Kambing Yang Baik

Kriteria yang dipakai sebagai pedoman untuk menentukan kualitas daging yang layak konsumsi adalah :

  • Keempukan daging ditentukan oleh kandungan jaringan ikat. Semakin tua usia hewan susunan jaringan ikat semakin banyak sehingga daging yang dihasilkan semakin liat. Jika ditekan dengan jari daging yang sehat akan memiliki konsistensi kenyal.
  • Kandungan lemak ( marbling ) adalah lemak yang terdapat diantara serabut otot ( intramuscular ). Lemak berfungsi sebagai pembungkus otot dan mempertahankan keutuhan daging pada wkatu dipanaskan. Marbling berpengaruh terhadap cita rasa.
  • Warna daging bervariasi tergantung dari jenis hewan secara genetic dan usia, misalkan daging sapi potong lebih gelap daripada daging sapi perah, daging sapi muda lebih pucat daripada daging sapi dewasa.
    Rasa dan Aroma dipengaruhi oleh jenis pakan. Daging berkualitas baik mempunyai rasa gurih dan aroma yang sedap.
  • Kelembaban : Secara normal daging mempunyai permukaan yang relative kering sehingga dapat menahan pertumbuhan mikroorganisme dari luar. Dengan demikian mempengaruhi daya simpan daging tersebut.

 

 

Kriteria Daging Kambing Yang Tidak Baik

Bau dan rasa tidak normal akan segera tercium sesudah hewan dipotong. Hal tersebut dapat disebabkan oleh adanya kelainan sebagai berikut :

  • Hewan sakit terutama yang menderita radang bersifat akut pada organ dalam yang akan menghasilkan daging berbau seperti mentega tengik.
  • Hewan dalam pengobatan terutama dengan pengobatan antibiotic akan menghasilkan daging yang berbau obat – obatan.
  • Warna daging tidak normal tidak selalu membahayakan kesehatan, namun akan mengurangi selera konsumen.
  • Konsistensi daging tidak normal yang ditandai kekenyalan daging rendah ( jika ditekan dengan jari akan terasa lunak ) dapat mengindikasikan daging tidak sehat, apaila disertai dengan perubahan warna yang tidak normal maka daging tersebut tidak layak dikonsumsi.
  • Daging busuk dapat mengganggu kesehatan konsumen karena menyebabkan gangguan saluran pencernaan. Pembusukan dapat terjadi karena penanganan yang kurang baik pada waktu pendinginan, sehingga aktivitas bakteri pembusuk meningkat, atau karena terlalu lama dibiarkan ditempat terbuka dalam waktu relative lama pada suhu kamar, sehingga terjadi proses pemecahan protein oleh enzim – enzim dalam daging yang menghasilkan amoniak dan asam sulfide.

 

 

 

 

Ciri-ciri Daging Kambing

 

  • Warna daging merah muda pucat.
  • Lemak menyerupai lemak domba warna putih.
  • Bau daging kambing jantan lebih menyengat daripada bau daging kambing betina.

 

Populasi Daging Kambing

Pembangunan sektor pertanian dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan, dan terdesentralisasi, senantiasa didorong untuk mewujudkan perekonomian nasional yang sehat, hal ini tercermin dari visi yang telah ditetapkan oleh Departemen Pertanian, sedangkan dalam misi pembangunan peternakan antara lain adalah memfasilitasi penyediakan pangan asal ternak yang cukup baik secara kuantitas maupun kualitasnya, memberdayakan SDM agar menghasilkan produk yang berdaya saing tinggi, menciptakan peluang ekonomi untuk meningkatkan pendapatan, membantu menciptakan lapangan kerja, dan melestarikan serta memanfaatkan sumberdaya alam pendukung peternakan (Departemen Pertanian, 2001).

Salah satu komoditas perternakan yang memenuhi kriteria seperti pada visi daan misi di atas antara lain komoditas domba dan kambing. Keragaman wilayah di muka bumi menyebabkan begitu banyak bangsa ternak yang tersebar di seluruh dunia. Sampai saat ini tercatat 244 bangsa domba yang telah diidentifikasi dengan cukup baik dan dari 300 bangsa kambing yang tercatat, 81 bangsa kambing telah teridentifikasi dengan baik sehingga dari performa fisik dapat dibedakan antara satu bangsa dengan bangsa lainnya (Heriyadi, dkk., 2002).

Beberapa bangsa domba dan kambing tersebut terdapat telah berkembangbiak dengan baik pada berbagai kondisi dan wilayah di Indonesia. Secara umum komoditas domba dan kambing terdistribusi di berbagai pulau atau provinsi di seluruh wilayah Indonesia atau minimum menyebar di 11 provinsi di seluruh Indonesia. Luasnya penyebaran populasi komoditas domba dan kambing tersebut membuktikan bahwa berbagai wilayah di tanah air memiliki tingkat kecocokan yang baik untuk pengembangan, baik kecocokan dari segi vegetasi, topografi, klimat, atau bahkan dari sisi sosial-budaya daerah setempat.

Lokasi penyebaran kambing sangat cocok bila dikembangkan di Provinsi Jawa Tengah, pada provinsi tersebut populasi kambingnya adalah yang paling tinggi dibandingkan provinsi-provinsi lain di Indonesia (3.033.952 ekor), dan domba sangat cocok bila dikembangkan di Provinsi Jawa Barat, karena populasi domba di Provinsi Jawa Barat adalah yang paling tinggi di Indonesia yaitu sebanyak 4.221.806 ekor atau mencapai 55,9 % populasi domba nasional (Statistik Peternakan, 2006).

Berdasarkan data yang diolah dari Departemen Pertanian (2003), terungkap bahwa daerah yang populasinya paling padat dan cocok untuk mengembangkan kambing dan domba sebagai sumber bibit dan bakalan untuk komoditas :

(1)    Kambing secara berturut-turut adalah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darusallam, dan Sulawesi Selatan.

(2)    Domba secara berturut-turut adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Nanggroe Aceh Darusallam.

Upaya pengembangan komoditas ternak apapun, termasuk pengembangan dan peningkatan produktivitas domba dan kambing, tidak terlepas dari visi pembangunan sektor pertanian dan misi pembangunan peternakan yang telah ditetapkan sebagai arah dalam upaya pengembangan setiap komoditas ternak.

Perkembangan peternakan domba dan kambing (doka) sampai saat ini relatif jalan di tempat, perkembangan produksi dan produktivitasnya hampir tidak mengalami kemajuan berarti, hal ini diduga akibat pola pemeliharaannya yang masih bersifat tradisional dengan skala pemilikan yang kecil (small holders), sehingga doka kebanyakan dipelihara apa adanya tanpa suatu perencanaan yang jelas untuk lebih berkembang, lebih produktif, dan lebih menguntungkan, di samping itu jumlah pemotongan doka termasuk domba dan kambing betina produktif untuk kebutuhan lokal pun cukup tinggi, sehingga bila produktivitasnya tidak ditingkatkan dan dikembangkan secara komersial dan dalam skala yang besar, dihawatirkan akan terjadi pengurasan populasi domba dan kambing nasional, karena perkembangan populasi doka tidak sejalan dengan meningkatnya permintaan akan doka dan perkembangan populasi penduduk.

Populasi domba dan kambing di Indonesia saat ini mencapai 19 347 475 ekor, terdiri atas domba sebanyak 7.549 .316 ekor dan kambing 11.798.159 ekor, sedangkan populasi domba di Jawa Barat mencapai 4.221.806 ekor (55,92 % populasi nasional) dan kambing berjumlah 1.148.547 ekor dan pemotongan domba yang tercatat di Jawa Barat pada Tahun 2006 mencapai 3.343.365 ekor, sedangkan kambing sebanyak 444.969 ekor (Statistik Peternakan, 2006).Artinya permintaan daging domba di Jawa Barat sangat tinggi dan nyaris menguras populasi yang ada pada tahun berjalan, bila hal ini tidak segera diantisipasi bukan tidak mungkin lambat laun domba akan punah dari bumi Jawa Barat, walau pun domba-domba lokal di Jawa Barat termasuk Domba Garut dikenal sebagai domba yang paling prolifik di muka bumi. Kondisi ini dihawatirkan diperparah oleh sulit tercapainya PSDS 2010 (Program Swasembada Daging Sapi 2010).

Saat ini, diperkirakan kemampuan produksi daging sapi di dalam negeri baru mampu memberikan kontribusi sekitar (70-75) % terhadap kebutuhan nasional, padahal PSDS 2010 yang telah dicanangkan oleh Pemerintah menuntut peran produksi daging sapi dalam negeri untuk memberikan kontribusi sebesar (90-95) %. Bila sampai Tahun 2010 terjadi kekurangan pasokan daging sapi dipasaran, sedikit banyak akan berimbas pula pada peningkatan konsumsi daging doka, walau pun untuk daging doka terdapat pangsa pasar yang spesifik. Saat ini pangsa pasar daging doka di Indonesia tergolong sangat rendah atau hanya sebesar 5 %, daging unggas 56 % , daging sapi 23 %, daging babi 13 %, daging lainnya 3 % (Ditjen Peternakan, 2006).

 

 

 

Permintaan Daging Kambing

MENJELANG Hari Raya Idul Adha 1428 H pekan depan, permintaan kambing di Pasar Hewan Banyuputih, Kelurahan Sidorejo Lor, Kecamatan Sidorejo, meningkat. Peningkatan terjadi sejak beberapa pekan lalu.

Meski pasar hewan terutama jenis kambing hanya buka pada hari pasaran Jawa, yakni Legi, tingginya permintaan kambing sudah mulai terasa. Seperti diungkapkan Jureni, warga Candirejo, Kecamatan Tuntang, yang selalu menjajakan kambingnya di pasar itu setiap hari pasaran.

”Kalau Idul Adha orang lebih senang kurban kambing daripada sapi. Mungkin karena praktis,” kata pedagang yang sudah belasan tahun berjualan kambing itu.

Selain permintaan kambing meningkat, harganya juga naik. Karena kurban merupakan ibadah, kenaikan harga tidak terlalu mahal. Menurut Juremi, yang penting ada kenaikan harga, terutama untuk ongkos angkutan yang ikut dinaikkan pemilik jasa transportasi ketika mendatangkan hewan kurban.

Jika tidak hari pasaran, Juremi bersama sejumlah pedagang mencari kambing ke sejumlah tempat, seperti Boyolali, Grobogan, dan Temanggung. Mencari kambing langsung dari daerah asal bisa mendapatkan keuntungan lebih jika dibandingkan dengan menunggu didatangkan pemasok.

Dalam sehari Juremi menyediakan 50 ekor kambing dan terjual sekitar 10 ekor hingga 20 ekor. Jika ada kenaikan permintaan, kambing yang dijual bisa lebih dari 30 ekor. Selain menyediakan kambing untuk warga yang hendak berkurban, dia juga memiliki langganan tetap pedagang sate dan warung makan.

Abdulah, pedagang lainnya mengatakan, biasanya kambing kurban yang banyak dicari adalah jenis randu. Sebab, kambing jenis itu ukurannya besar dan harganya cukup mahal, lebih dari Rp 800.000/ekor. Kambing muda termurah jenis lokal yang akan digemukkan Rp 150.000 hingga Rp 200.000/ekor.

Menjelang kurban biasanya para pedagang meningkatkan stok dagangan hingga dua kali lipat. Jumlah tersebut kadang masih kurang, sehingga ada pembeli yang sudah memesan jauh-jauh hari sebelumnya.

 

 

 

 

 

 

GOAT MEAT

Criteria for Good Meat Goat

 

The criteria used as guidelines to determine appropriate quality meat consumption is:

• meat tenderness is determined by the content of connective tissue. The older age structure of the connective tissue of animals more and more so the meat produced by the clay. When pressed with the fingers of healthy meat will have a chewy consistency.
• The content of fat (marbling) are fats found between the muscle fibers (intramuscular). Fat serves as a wrapper for maintaining the integrity of muscle and flesh on wkatu heated. Marbling effect on taste.
• The color of meat varies depending on the type of animals are genetically and age, eg beef cattle is darker than beef, dairy, veal beef paler than adults.
The taste and aroma are influenced by the type of feed. Having good quality meat taste savory and delicious aroma.
• Humidity: Normally the meat has a relatively dry surface so that it can withstand the growth of microorganisms from the outside. Thus affect the shelf life meat.

 

Criteria for Meat Goat The Good

Abnormal smell and taste will soon smell after the animals slaughtered. This can be caused by abnormalities as follows:

• Animals suffering from pain, especially acute inflammation in internal organs that will produce meat smell like rancid butter.
• Animals in the treatment mainly with antibiotic treatment will result in meat that smells of drugs – drugs.
• The color of meat is not normal is not always harmful to health, but will reduce consumers’ tastes.
• Consistency of meat is not normal that marked a low elasticity of meat (if pressed with a finger will feel soft) can indicate an unhealthy meat, apaila accompanied by abnormal discoloration of the meat was unfit for consumption.
• rotten meat could damage the health of consumers because it causes gastrointestinal tract disorders. Decay can occur due to poor handling at the time of cooling, so the activity of bacteria increases, or because the place is left open too long in a relatively long time at room temperature, resulting in the process of protein breakdown by enzymes – enzymes in meat that produce ammonia and sulfide acid .

The characteristics of Goat Meat

• The color of pale pink flesh.
• Fat-like fat white sheep.
• The smell of goat meat is more oppressive than the smell of goat meat.

Meat Goat Population

Development of agriculture and agribusiness competitiveness, berkerakyatan, sustainable, and decentralized, constantly encouraged to achieve a healthy national economy, this is reflected in the vision set by the Ministry of Agriculture, while the mission of animal husbandry development, among others, is to facilitate the origin of food penyediakan livestock sufficient both in quantity and quality, empower human resources to produce highly competitive products, creating economic opportunities to increase revenue, help create jobs, and conserve and utilize natural resources supporting livestock (Ministry of Agriculture, 2001).
One of commodity farms that meet the criteria as in the vision of distinction among other missions on commodity sheep and goats. The diversity of the region in the earth caused so many nations cattle spread across the world. Until now carrying 244 ewes that have been identified quite well and of the 300 nations listed goats, 81 sheep have been identified with the nation so well that the physical performance can be distinguished from one nation to another nation (Heriyadi, et al., 2002).
Some people are sheep and goats have been breeding well in various conditions and areas in Indonesia. In general, sheep and goats commodities distributed in the various islands or provinces across Indonesia or minimum spread in 11 provinces throughout Indonesia. The extent of spread of sheep and goat population of commodities has proven that the various regions in the country has a good level of suitability for development, both in terms of suitability of vegetation, topography, climate, or even from the local socio-cultural.
The location is perfect when spread goat was developed in Central Java province, the province’s goat population is the highest compared to other provinces in Indonesia (3,033,952 heads), and lamb is perfect when developed in West Java province, because the sheep population in West Java province is the highest in Indonesia, as many as 4,221,806 55.9% tail or reach the national sheep population (Statistics of Animal Husbandry, 2006).
Based on data compiled through the Department of Agriculture (2003), revealed that the region whose population is most dense and suitable for developing sheep and goats as a source of seed and going for commodities:
(1) Sheep in a row is Central Java, East Java, West Java, North Sumatra, Nanggroe Aceh Darussalam, and South Sulawesi.
(2) Sheep in a row are West Java, Central Java, East Java, North Sumatra and Aceh Darussalam.
Efforts to develop any kind of livestock commodities, including development and increased productivity of sheep and goats, is inseparable from the development vision of agriculture and animal husbandry development mission which has been designated as the direction in the development of each commodity cattle.
The development of sheep and goat farming (doka) until the current relative path in place, development of production and productivity is almost no meaningful progress, it is allegedly due to a pattern that still maintain the traditional small-scale ownership (small holders), so doka mostly maintained it is without a clear plan for the more developed, more productive and more profitable, in addition doka including cutting the number of sheep and goat production to meet local needs was quite high, so that if productivity is not improved and developed commercially and on the scale large, dihawatirkan will happen draining national sheep and goat population, because population growth doka not in line with growing demand doka and population growth.
Sheep and goat population in Indonesia has reached 19,347,475 tail, consisting of as many as 7549 sheep and goats 11,798,159 .316 tail tail, while the sheep population in West Java reached 4,221,806 individuals (55.92% of national population) and goat tail and cuts totaled 1,148,547 sheep recorded in West Java in 2006 reached 3,343,365 tail, while as many as 444 969 sheep heads (Animal Husbandry Statistics, 2006). This means that demand for meat sheep in West Java are very high and almost deplete existing populations in current year, if this is not immediately anticipated is not impossible that the sheep will gradually become extinct from the earth of West Java, although local sheep in West Java including Garut sheep known as sheep of the most prolific on earth. This condition is exacerbated by the difficult achievement dihawatirkan PSDS 2010 (Self-Beef Program 2010).
Currently, the estimated ability of beef production in the new country is able to contribute approximately (70-75)% of national demand, whereas PSDS 2010, which was announced by the Government demanding a role in domestic beef production to contribute (90-95) %. When up to year 2010 there is a shortage of beef supply in the market, a little too much will result in increased consumption of meat doka, although there is nothing to flesh doka specific market share. Currently doka meat market in Indonesia is very low or only 5%, 56% poultry meat, beef 23%, pork 13%, other 3% meat (Directorate General of Animal Husbandry, 2006).

Demand for Goat Meat

Eve of Hari Raya Idul Adha 1428 H next week, the demand for goat in Banyuputih River Livestock Market, Sidorejo Lor Village, District Sidorejo, increases. The increase occurred after a few weeks ago.
Although the animals especially of the goat market is only open on market days of Java, namely Legi, high demand for goat had begun. As disclosed Jureni, residents Candirejo, Tuntang District, which is always hawking his goat in the market each market day.
Eid al-Adha”If people would rather sacrifice the goat instead of beef. Perhaps because of the practical,”said traders who had dozens of years to sell the goat.
In addition to goat demand increases, prices also rose. Because sacrifice is worship, not too expensive prices. According Juremi, the important thing is higher prices, especially for the transportation costs involved increased transportation services when the owner brought sacrificial animals.
If no market today, Juremi together a number of traders looking for goats to a number of places, like Boyolali, Grobogan, and Waterford. Looking for goats directly from the area of origin can benefit more when compared with waiting imported suppliers.
In a day Juremi provide 50 goats and sold about 10 cows and 20 tails. If there is an increase in demand, goats are sold to more than 30 individuals. In addition to providing goats for people who want to sacrifice, he also has a fixed subscription satay vendors and food stalls.
Abdullah, another trader said, usually goat sacrifices that are sought is the type of cottonwoods. Therefore, goats that kind of large size and the price is quite expensive, more than USD 800.000/ekor. Young goat cheapest local species that will be fattened Rp 150,000 to Rp 200.000/ekor.
By offering the traders usually trade up to increase the stock doubled. The amount is sometimes lacking, so there are buyers who have booked far in advance.

 




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: