vhizaliumloverz











DOMBA

Karakteristik Standar Domba Mouflon

Karakteristik standar domba Mouflon ini adalah karakteristik standar yang ditetapkan oleh Perhimpunan Peternak Domba Bulu Bertanduk Amerika (United Horned Hair Sheep Association, Inc.). Karakteristik standar domba Mouflon ini menjadi tujuan yang harus dicapai semua peternak domba Mouflon. Beberapa karakteristik standar wajib dipenuhi untuk pendaftaran domba Mouflon dan daftar lengkap karakteristik standar yang harus dipenuhi untuk pendaftaran domba Mouflon dicantumkan sesudahnya.

Karakteristik domba Mouflon yang kurang diharapkan dianggap sebagai penyimpangan dan bukan diskualifikasi. Domba Mouflon yang memperlihatkan penyimpangan pada salah satu karakteristik tertentu masih bisa didaftarkan. Namun demikian, domba Mouflon yang memperlihatkan karakteristik yang tergolong diskualifikasi tidak bisa didaftarkan. Domba Mouflon yang tidak memperlihatkan karakteristik yang wajib dipenuhi untuk pendaftarannya dianggap terdiskualifikasi dan tidak memenuhi syarat pendaftaran.

Domba Mouflon harus memperlihatkan karakteristik dan penampilan umum sebagai domba yang gagah. Domba Mouflon harus terlihat seperti atlet yang ramping dan menarik. Domba Mouflon bukan murni trah domba pedaging tapi merupakan trah domba yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan dan belum tentu mencapai bobot hidup yang tinggi atau memperlihatkan otot-otot yang dalam dan berat sebagaimana domba pedaging murni. Istilah yang tepat untuk menggambarkan domba Mouflon adalah domba yang penampilan dan sifatnya seperti rusa.

Kepala
Kepala domba Mouflon harus benar-benar seimbang dan sesuai dengan badannya dan berdiri tegak ketika dalam keadaan waspada. Domba Mouflon betina harus memperlihatkan wajah dan karakteristik yang lebih feminin daripada domba Mouflon jantan.

Domba Dorper Memang Domba Pedaging Unggul

Domba Dorper merupakan trah domba pedaging Afrika Selatan yang dikembangkan pada tahun 1930an dari domba Dorset dan domba Persia kepala hitam. Galur domba Dorper dikembangkan untuk daerah gersang yang luas di Afrika Selatan.

Domba Dorper merupakan salah satu jenis domba tak bertanduk yang paling subur dengan badan yang panjang, bulat, dan dalam, serta perpaduan rambut bulu dan rambut wol tipis dan pendek. Rambut wol yang tipis dan pendek ini mengalami peluruhan alami secara berkala. Dengan demikian, rambut wol domba Dorper ini tidak perlu dicukur sebagaimana rambut wol domba lain. Karena itu, domba Dorper diklasifikasikan sebagai domba bulu (hair sheep), bukan domba wol (wool sheep).

Domba Dorper memiliki ciri khas kepala hitam (disebut domba Dorper) dan juga kepala putih (dinamakan domba Dorper Putih). Selain itu, domba Dorper memperlihatkan kemampuan adaptasi yang luar biasa, ketangguhan fisik, tingkat reproduksi dan pertumbuhan (mencapai 36 kg pada umur 3,5 sampai 4 bulan) serta kemampuan mengasuh anak yang tinggi.

Domba Dorper dikembangkan melalui perkawinan silang antara domba Dorset jantan dengan domba Persia kepala hitam betina. Hasil perkawinan silang ini adalah domba Dorper yang berkepala hitam dan domba Dorper yang berkepala putih. Perbedaan warna ini tidak menunjukkan perbedaan keunggulan keduanya. Namun demikian, sekitar 85% peternak domba Dorper Afrika Selatan memelihara domba Dorper kepala hitam.

Saat ini, domba Dorper merupakan domba dengan populasi terbanyak kedua di Afrika Selatan dan telah menyebar ke berbagai negara di seluruh dunia.

Domba Dorper umumnya diternakkan sebagai domba pedaging unggul. Musim kawin domba Dorper cukup panjang dan tidak dibatasi musim. Peternak dapat mengatur program perkawinan dombanya sehingga induk domba Dorper bisa melahirkan kapan saja setiap tahun. Domba Dorper sangat subur dan persentase domba Dorper betina yang bunting dalam satu musim kawin relatif tinggi. Jarak beranak domba Dorper betina bisa delapan bulan. Karena itu, dengan pemberian pakan yang baik dan pengelolaan yang baik, domba Dorper betina bisa beranak tiga kali dalam dua tahun.

Persentase beranak 150% dapat dicapai dalam kondisi pemeliharaan yang baik, dan bahkan pada sebagian kasus luar biasa dapat dicapai 180%. Dalam kondisi pemeliharaan ekstensif, persentase beranak domba Dorper betina mencapai 100%. Dalam kawanan domba Dorper dengan jumlah domba Dorper betina dara yang besar, persentase beranak berkisar 120% karena domba-domba Dorper betina ini biasanya melahirkan seekor anak. Kalau diasumsikan persentase beranaknya 150% dan pemeliharaannya membuat domba Dorper betina dapat beranak sekitar tiga kali dalam dua tahun, seekor domba Dorper betina akan melahirkan 2,25 anak domba setiap tahun.

Anak domba Dorper tumbuh dengan cepat dan mencapai bobot sapih yang tinggi. Ini merupakan karakteristik penting dari segi ekonomi dalam pembiakan domba pedaging. Bobot hidup sekitar 36 kg dapat dicapai anak domba Dorper pada umur 3-4 bulan. Ini menjamin karkas bermutu tinggi sekitar 16 kg. Hal ini terkait dengan potensi pertumbuhan alami anak domba Dorper dan kemampuannya makan rumput pada usia dini.

Menurut Dr Q P Campbell dalam “Make Money with Mutton Sheep” (Menghasilkan Uang dengan Domba Pedaging), pertambahan berat badan harian rata-rata domba Dorper dalam kondisi pemeliharaan ekstensif berkisar 81 g sampai 91 g per hari.

Domba Dorper mampu menyesuaikan diri dengan baik dengan berbagai kondisi iklim dan sumber pakan. Pada mulanya, domba Dorper dikembang-biakkan untuk daerah gersang di Afrika Selatan, tapi sekarang domba Dorper sudah tersebar luas ke seluruh provinsi di negara ini. Domba Dorper mampu hidup dengan baik dalam berbagai kondisi lingkungan dan pakan serta bereaksi sangat positif dalam kondisi pemeliharaan intensif.

//

Fakta mengenai Domba

Domba adalah istilah untuk hewan peragut selektif yang dapat diternakkan (dijinakkan) ataupun yang liar. Tulisan ini lebih banyak membahas domba ternak (Ovis Aries). Berdasarkan tingkah lakunya, domba termasuk hewan sosial, mandiri, dan non-defensif. Sosial artinya domba suka berkumpul atau membentuk kelompok. Jarang sekali terlihat domba sendirian karena sifat sosialnya. Mandiri berarti domba memiliki tingkat kemandirian yang tinggi saat baru lahir. Artinya, domba dapat berdiri sendiri dengan kakinya tidak lama setelah dilahirkan. Domba umumnya juga non-defensif dalam menghadapi hewan pemangsa atau predator seperti serigala dan anjing liar. Dengan kata lain, kalau ada hewan pemangsa atau predator, domba cenderung segera menghindar atau melarikan diri. Domba juga sangat pemilih dalam kebiasaan meragutnya. Pada bibir bagian atas domba terdapat belahan bibir yang membuat domba dapat memilih dan meragut daun yang disukainya.

Pada mulanya, semua domba merupakan domba liar. Sekitar tahun 10.000 SM domba mulai diternakkan oleh manusia. Sebagian besar galur domba wol (wool sheep) berasal dari domba Mouflon. Sebagian besar trah domba bulu (hair sheep) berasal dari domba Urial. Sebelum domestikasi domba, anjing dan rusa sudah dijinakkan manusia.

Setelah domba dipelihara dalam kondisi diternakkan, domba mulai mengalami beberapa perubahan. Pada bagian luar, domba mulai mengalami pertumbuhan lebih banyak rambut wol daripada rambut bulu. Warna wol dan bulu berubah dari coklat dan coklat muda menjadi putih dan hitam. Telinga domba juga menjadi lebih terkulai dan kurang tegak. Tanduk domba yang terdapat pada domba liar semakin menyusut dan hilang pada kebanyakan trah domba ternak. Pada bagian dalam juga terjadi perubahan pada domba. Perubahan internal ini terjadi pada bagian muka maupun belakang badan domba. Ekor domba jadi lebih sedikit tulangnya daripada domba di zaman kuno. Domba sekarang juga lebih kecil otaknya dibandingkan dengan domba 12.000 tahun yang lalu.

Domba diternakkan untuk mendapatkan beberapa manfaat yang masih berlaku sampai sekarang. Pada mulanya domba diternakkan untuk mendapatkan daging, kulit, susu dan wol. Sekarang domba masih digunakan dengan tujuan pokok yang sama ditambah lagi dengan berbagai tujuan lainnya. Produk sampingan domba banyak digunakan pada berbagai macam produk yang kita gunakan sehari-hari.

Berat lahir domba berkisar 2,5 sampai 4 kg per ekor. Jumlah rata-rata anak domba yang dilahirkan seekor domba betina 1,1 sampai 1,4 ekor domba per tahun. Anak domba yang baru lahir akan menyusu pada induknya selama 2 sampai 3 bulan. Sekitar 15 ekor domba memerlukan padang rumput seluas 1 hektar.

Dilihat dari penutup badannya, domba terbagi menjadi beberapa kategori: domba wol halus, domba wol sedang, domba wol panjang, domba wol karpet, dan domba bulu. Domba wol halus adalah domba yang menghasilkan wol bermutu paling tinggi. Yang termasuk dalam kategori ini adalah domba Merino galur murni seperti domba Merino Spanyol, domba Cormo Amerika, domba Merino Booroola, domba Debouillet, domba Merino Delaine, dan domba Rambouillet. Domba Merino mampu beradaptasi dengan lingkungan gersang dan semi-gersang. Domba Merino memiliki naluri berkelompok yang sangat kuat. Domba penghasil wol halus ini merupakan lebih dari 50 persen dari populasi domba di seluruh dunia. Domba wol halus banyak terdapat di Australia, Afrika Selatan, Amerika Selatan, dan Amerika Serikat Bagian Barat.

Domba wol sedang adalah domba yang menghasilkan wol berkualitas sedang. Domba yang masuk dalam klasifikasi domba wol sedang adalah segala jenis domba peranakan domba Merino. Domba wol sedang biasanya dijadikan sebagai domba ternak untuk tujuan ganda, yaitu penghasil wol kualitas sedang dan penghasil daging. Domba wol sedang yang paling terkenal di Amerika Serikat adalah domba Suffolk, domba Dorset, dan domba Hampshire. Domba wol sedang merupakan 15 persen dari seluruh populasi domba di dunia.

Domba wol panjang adalah domba yang menghasilkan wol yang kasar dan kuat dengan panjang 12 inci per tahun. Domba wol panjang paling cocok hidup di daerah beriklim sejuk, bercurah hujan tinggi, dan terdapat pakan hijauan yang melimpah. Domba yang diklasifikasikan domba wol panjang adalah berbagai jenis domba Inggris. Domba Border Leicester, domba Coopworth, domba Costwold, domba Lincoln, domba Perendale, dan domba Romney termasuk dalam golongan domba wol panjang. Domba wol panjang banyak diternakkan di Inggris, Skotlandia, Selandia Baru, dan Kepulauan Falkland.

Domba wol karpet adalah domba yang menghasilkan wol yang paling kasar dan paling rendah kualitasnya. Wol jenis ini biasa digunakan untuk pembuatan karpet. Rambut domba wol karpet terdiri dari rambut dalam dan rambut luar. Rambut luar domba wol karpet berupa wol yang panjang dan kasar sebagi pelindung terhadap cuaca lingkungan yang ekstrem. Contoh domba yang dikategorikan sebagai domba wol karpet adalah domba Islandia, domba Karakul, domba Navajo Churro, dan domba Skotlandia Muka Hitam.

Berdasarkan klasifikasi domba wol di atas, domba asli Indonesia, yaitu domba kampung atau domba ekor tipis nampaknya termasuk dalam kategori domba wol karpet. Hal ini terbukti dari kenyataan bahwa rambut domba ekor tipis berupa wol kasar dan tidak mengalami peluruhan alami. Karena peternak tradisional biasanya tidak pernah mencukur rambut wolnya, rambut domba ekor tipis umumnya terlihat kusut dan bergumpal-gumpal.

Domba bulu (hair sheep) adalah domba yang rambutnya bukan berupa wol tapi seluruhnya berupa bulu. Dari pengamatan visual, rambut bulu pada domba bulu ini terlihat seperti rambut bulu pada kambing. Namun demikian, domba yang sebagian rambutnya berupa wol tapi sebagian besar rambutnya berupa bulu juga dimasukkan dalam kategori ini. Domba yang rambutnya merupakan perpaduan rambut bulu dan rambut wol ini akan mengalami peluruhan alami rambut wolnya secara berkala sehingga tidak perlu dicukur.

Ketiga jenis domba liar yang menjadi nenek moyang domba ternak, yaitu domba Argali, domba Urial, dan domba Mouflon, termasuk kelompok domba bulu. Sebagian besar domba bulu ternak terdapat di Afrika dan kawasan Karibia. Meskipun demikian, domba bulu juga ditemukan di daerah beriklim sedang di Amerika Serikat dan Kanada. Beberapa contoh domba bulu ternak yang terkenal adalah domba Dorper, domba Katahdin, domba Barbados Perut Hitam, domba Barbado atau disebut juga domba Amerika Perut Hitam (American Blackbelly), domba Pelibuey, dan domba Damara.

Domba bulu merupakan 10 persen dari populasi domba di seluruh dunia. Namun demikian, populasi domba bulu terus berkembang dengan sangat pesat karena peternak di Amerika Serikat, Australia, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya semakin banyak yang lebih suka memelihara domba bulu daripada domba wol karena dua pertimbangan utama: pertama, biaya pencukuran wol semakin mahal tapi harga jual wol semakin menurun, dan kedua, domba bulu tidak memerlukan pencukuran sama sekali sehingga lebih efisien.

Gambaran Umum Domba Mouflon

Kalau dilihat penampilan fisiknya, domba Mouflon (Ovis Musimon) sangat mirip dengan domba Urial (Ovis Orientalis atau Ovis Vignei). Kedua spesies domba ini diyakini sebagai nenek moyang utama domba ternak modern yang kita jumpai sekarang ini. Domba Mouflon berasal dari kepulauan Korsika dan Sardinia di Italia, dan Cyprus, tapi belakangan ini telah dibawa ke sebagian besar wilayah Eropa. Sebagaimana kebanyakan domba liar, domba Mouflon hidup di padang rumput daerah pegunungan. Di Korsika, domba Mouflon hidup di pegunungan berbatu-batu berlereng terjal, sehingga domba Mouflon ini terlindung dari hewan pemangsa atau predator.

Domba Mouflon berwarna merah-coklat dengan bagian sepanjang punggung berwarna gelap, dan bagian samping berwarna lebih cerah. Bagian bawah domba Mouflon dan juga separuh bagian bawah kakinya berwarna putih. Moncong domba Mouflon berwarna putih, dan juga terdapat lingkaran putih di sekeliling matanya.

Domba Mouflon jantan dan betina bertanduk, tapi tanduk domba Mouflon jantan lebih besar. Tanduk domba Mouflon yang melingkar berpilin biasanya mencapai panjang sekitar 64 cm, dan melengkung ke belakang di atas kepalanya. Tanduk domba Mouflon tidak merentang keluar pada bagian ujungnya sebagaimana kebanyakan tanduk domba liar. Ukuran tanduk domba Mouflon jantan menentukan statusnya di dalam kelompoknya.

Domba Mouflon kira-kira sama besarnya dengan domba berukuran sedang dengan bobot hidup berkisar 25 hingga 55 kg. Panjang domba Mouflon berkisar 1,2 sampai 1,5 m, dan tinggi domba Mouflon sekitar 60 sampai 120 cm. Domba Mouflon berbulu kasar, dan pada musim dingin bulu domba Mouflon mengalami pertumbuhan rambut wol di bagian bawah bulunya yang membuat domba Mouflon tetap hangat.

Domba Mouflon jantan dan betina hidup dalam kelompok yang terpisah dan hanya berkumpul selama musim kawin. Domba Mouflon betina biasanya mendapat sumber pakan yang lebih baik karena kesehatan domba Mouflon betina lebih penting untuk melahirkan. Domba Mouflon kawin atau birahi pada akhir musim gugur sampai awal musim dingin. Kekuasaan domba Mouflon jantan ditentukan oleh usia dan ukuran tanduknya. Domba-domba Mouflon jantan akan saling mengadu tanduknya untuk menegakkan kekuasaannya.

Domba Mouflon betina baru kawin setelah berusia sekitar 2 hingga 3 tahun. Domba Mouflon jantan baru kawin setelah berumur kira-kira 7 tahun karena domba Mouflon jantan harus mencapai kedudukan sosial yang kuat sebelum diizinkan kawin dengan domba Mouflon betina. Domba Mouflon betina bunting selama 210 hari dan dapat melahirkan seekor atau dua ekor anak domba. Domba Mouflon betina akan mencari tempat berlindung untuk melahirkan anaknya yang sudah mampu berdiri dalam beberapa menit setelah kelahirannya.

Sebagai herbivora, domba Mouflon makan rumput dan dedaunan semak. Domba Mouflon sering diburu untuk mendapatkan tanduk trofinya. Domba Mouflon tergolong hewan pemalu dan biasanya makanan pada malam hari serta tidak tinggal lama di satu tempat.

Selama 50 tahun terakhir, jumlah populasi domba Mouflon telah berkurang akibat hilangnya habitat, perburuan, dan perkawinan silang dengan domba ternak. Populasi domba Mouflon di Sardinia turun menjadi 700 ekor pada tahun 1975, dan peningkatan kembali jumlah populasi domba Mouflon ini relatif lambat. Di Korsika terdapat sekitar 200 hingga 500 domba Mouflon, dan di Cyprus jumlahnya lebih sedikit. Populasi domba Mouflon di kedua pulau ini dikategorikan rawan punah oleh Serikat Konservasi Alam Internasional (IUCN). Namun demikian, populasi domba Mouflon di Eropa daratan semakin meningkat.

Sebagaimana trah domba liar lainnya, domba Mouflon termasuk klasifikasi domba bulu (hair sheep). Keunggulan nyata domba bulu ini adalah mereka tidak memerlukan pencukuran sebagaimana yang harus rutin dilakukan pada domba wol.

Dengan demikian, peternakan domba jenis ini lebih efisien daripada peternakan domba wol. Para peternak luar negeri pun belakangan ini semakin banyak yang mengalihkan perhatian dari domba wol ke domba bulu.

Karena itu, di Eropa dan Amerika sudah cukup banyak peternak yang memelihara domba unggul ini.

Mudah-mudahan, tulisan sederhana ini mampu menimbulkan minat para peternak yang memiliki kemampuan finansial memadai ataupun para pemilik modal Indonesia untuk mendatangkan domba unggul ini ke Indonesia.

Dengan didatangkannya domba unggul ini dari luar negeri ke Indonesia, usaha agrobisnis peternakan Indonesia, terutama peternakan domba, akan semakin berkembang dan koleksi jenis domba yang diternakkan jadi semakin beragam.

Karena galur domba ini belum begitu banyak yang mengembang-biakkannya, dan di Indonesia domba jenis ini belum ada, nilai jualnya tentu relatif tinggi. Nilai jual yang tinggi ini jelas menguntungkan bagi peternaknya.

Sebagai informasi, salah satu ranch di Amerika Serikat menetapkan harga jual domba Mouflon jantan US$1.000 hingga US$2.000. Dengan nilai tukar saat ini, harga ini setara dengan sekitar Rp9 juta hingga Rp18 juta. Harga yang sangat fantastis untuk seekor domba!

Selain itu, domba unggul ini juga bisa dikawin-silangkan dengan domba lokal untuk menghasilkan domba jenis baru dengan kualitas yang lebih baik dan pasti harganya lebih tinggi.

Peternak yang mengembang-biakkan domba unggul ini dapat membidik tiga segmen pasar sekaligus: pertama, penjualan domba Mouflon galur murni kepada para peternak yang ingin ikut mengembang-biakkan domba Mouflon galur murni. Kedua, penjualan peranakan domba Mouflon hasil perkawinan silang domba Mouflon jantan dengan domba lokal betina kepada para peternak yang tidak mampu membeli domba Mouflon galur murni. Ketiga, penjualan peranakan domba Mouflon ke pasar daging dalam negeri maupun luar negeri.

//

Gambaran Umum Domba Urial

Domba Urial adalah salah satu domba liar yang masih hidup sampai saat ini. Domba Urial atau disebut juga domba Arkar atau domba Shapo hidup liar di kawasan Asia Tengah yang mencakup wilayah Afghanistan, India barat laut (Kashmir), Iran timur laut dan tenggara, Kazakhstan barat daya, Oman, Pakistan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan. Domba Urial (Ovis Orientalis atau Ovis Vignei) merupakan nenek moyang sebagian besar domba ternak (Ovis Aries) yang ada sekarang ini.

Domba Urial hidup di habitat alam dengan kadar tumbuhan sedang sampai daerah yang sangat gersang, terutama padang rumput, tapi domba Urial ini juga terdapat di daerah pertanian dan kawasan hutan. Makanan utama domba Urial adalah rumput, tapi domba Urial suka juga makan dedaunan semak dan pohon, serta biji-bijian.

Ciri utama domba Urial adalah bulunya yang panjang dan berwarna coklat kemerahan yang memudar selama musim dingin. Ciri khas domba Urial jantan adalah lingkaran hitam yang membentang dari leher sampai dada dan sepasang tanduknya yang besar dan janggutnya yang berwarna putih di bawah mulut. Tanduk domba Urial jantan yang besar ini berpilin keluar dari atas kepala dan berbelok ke dalam dan berakhir di belakang kepala. Domba Urial betina juga bertanduk namun lebih pendek dan lebih kecil. Tanduk domba Urial jantan bisa mencapai panjang 100 cm. Tinggi pundak domba Urial jantan dewasa berkisar 80 sampai 90 cm. Bobot hidup domba Urial jantan sekitar 50 kg.

Sebagai hewan sosial, domba Urial hidup berkelompok. Kebiasaan hidup berkelompok ini sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup mereka. Pertama, hal ini membuat hewan pemangsa atau predator kesulitan menangkap dan membunuh salah satu domba Urial ini. Kedua, pada malam hari domba-domba Urial yang berkumpul dan saling merapatkan badannya membuat badan domba Urial ini tetap hangat dalam menghadapi udara malam yang cukup dingin. Dan ketiga, kebiasaan bergerombol ini membuat kegiatan meragut mereka menjadi teratur. Kelompok-kelompok domba Urial biasanya dipimpin oleh seekor domba Urial jantan dewasa yang memandu dan memimpin kelompoknya.

Domba Urial jantan akan saling berkelahi menggunakan tanduknya yang kuat dan besar untuk merebut kekuasaan dan hak mengawini. Tingkah laku ini biasanya terjadi pada awal musim gugur, dan domba Urial jantan yang jadi pemenangnya akan membawa 3 sampai 6 ekor domba Urial betina sebagai pasangan kawinnya.

Musim kawin dimulai saat musim gugur pada bulan September dan November, dan kegiatan kawin ini mencapai puncaknya pada paruh pertama bulan November. Domba Urial jantan, yang biasanya hidup terpisah di luar musim kawin, memilih empat atau lima ekor domba Urial betina sebagai pasangannya. Domba Urial betina ini nanti melahirkan satu atau dua ekor anak domba Urial setelah bunting selama lima bulan. Domba Urial betina yang akan melahirkan memisahkan diri ke bagian atas jurang yang curam dan menggali parit di tempat yang teduh untuk melahirkan anaknya.

Populasi domba Urial di seluruh dunia belum pernah diperkirakan. Namun demikian, populasi domba Urial di dunia cenderung berkurang secara signifikan, mungkin sampai 30% selama tiga generasi. Secara umum, populasi domba Urial terancam terutama oleh perburuan liar dan persaingan mendapatkan sumber pakan dengan hewan ternak.

Domba Urial termasuk dalam kategori domba liar yang rawan punah, tapi sebagian besar subspesies domba Urial sudah masuk kategori bahaya punah. Domba Urial sebagai domba liar mengalami ancaman terutama karena beberapa sebab. Pertama, domba Urial hidup di dataran rendah terbuka yang biasanya berdekatan dengan daerah yang banyak digunakan sebagai tempat penggembalaan sapi, domba, dan kambing, yang semuanya merupakan pesaing ekologis dan bisa menyebarkan penyakit. Kedua, kehadiran manusia yang dekat dengan habitat domba Urial juga menimbulkan perburuan berlebihan atau perburuan liar. Ketiga, dengan hidup di habitat yang gersang dan sumber pakan kurang, domba Urial terdapat di habitat alam dengan tingkat kepadatan rendah, yaitu biasanya kurang dari satu ekor domba Urial per 100 hektar. Yang terakhir, domba Urial sangat dihargai oleh para pemburu trofi, sehingga domba Urial jantan biasanya diburu secara berlebihan, dan populasinya semakin berkurang. Pemangsa utama domba Urial adalah macan tutul dan serigala.

Sebagaimana trah domba liar lainnya, domba Urial termasuk klasifikasi domba bulu (hair sheep). Keunggulan nyata domba bulu ini adalah mereka tidak memerlukan pencukuran sebagaimana yang harus rutin dilakukan pada domba wol.

Dengan demikian, peternakan domba jenis ini lebih efisien daripada peternakan domba wol. Para peternak luar negeri pun belakangan ini semakin banyak yang mengalihkan perhatian dari domba wol ke domba bulu.

Karena itu, di Eropa dan Amerika sudah cukup banyak peternak yang memelihara domba unggul ini.

Mudah-mudahan, tulisan sederhana ini mampu menimbulkan minat para peternak yang memiliki kemampuan finansial memadai ataupun para pemilik modal Indonesia untuk mendatangkan domba unggul ini ke Indonesia.

Dengan didatangkannya domba unggul ini dari luar negeri ke Indonesia, usaha agrobisnis peternakan Indonesia, terutama peternakan domba, akan semakin berkembang dan koleksi jenis domba yang diternakkan jadi semakin beragam.

Karena galur domba ini belum begitu banyak yang mengembang-biakkannya, dan di Indonesia domba jenis ini belum ada, nilai jualnya tentu relatif tinggi. Nilai jual yang tinggi ini jelas menguntungkan bagi peternaknya.

Sebagai informasi, salah satu ranch di Amerika Serikat menetapkan harga domba Urial dara US$2.000 dan domba Urial bujang US$2.500. Dengan nilai tukar saat ini, harga ini setara dengan sekitar Rp18 juta dan Rp23 juta. Harga yang sangat fantastis untuk seekor domba!

Selain itu, domba unggul ini juga bisa dikawin-silangkan dengan domba lokal untuk menghasilkan domba jenis baru dengan kualitas yang lebih baik dan pasti harganya lebih tinggi.

Peternak yang mengembang-biakkan domba unggul ini dapat membidik tiga segmen pasar sekaligus: pertama, penjualan domba Urial galur murni kepada para peternak yang ingin ikut mengembang-biakkan domba Urial galur murni. Kedua, penjualan peranakan domba Urial hasil perkawinan silang domba Urial jantan dengan domba lokal betina kepada para peternak yang tidak mampu membeli domba Urial galur murni. Ketiga, penjualan peranakan domba Urial ke pasar daging dalam negeri maupun luar negeri.

Domba Argali, Domba Liar Terbesar di Dunia

Domba Argali merupakan salah satu spesies domba liar yang ada di dunia. Argali adalah nama dalam bahasa Mongolia untuk jenis domba ini. Nama latin domba Argali adalah Ovis Ammon. Ovis adalah bahasa Latin yang berarti domba, sedangkan Ammon adalah salah satu dewa bangsa Mesir kuno, yang biasanya digambarkan sebagai sosok manusia berkepala domba jantan. Domba Argali banyak ditemukan di kawasan pegunungan Asia Tengah dengan ketinggian 2.500 sampai 5.500 meter di atas permukaan laut yang mencakup daerah pegunungan Himalaya, pegunungan Altay, wilayah Kazakhtan, Kirgistan, Tajikistan, Rusia, Tibet, dan Mongolia. Domba Argali ini biasanya hidup di kawasan padang rumput berbukit-bukit dekat daerah pegunungan.

Dibandingkan dengan spesies domba liar lainnya maupun domba ternak, domba Argali merupakan trah domba terbesar di dunia. Panjang badan domba Argali jantan berkisar 120 sampai 200 cm. Tinggi bahunya mencapai 90 hingga 120 cm pada domba Argali jantan. Bobot hidup domba Argali jantan berkisar dari 65 hingga 180 kg. Dengan karakteristik fisik seperti ini, jelas domba Argali lebih besar daripada domba ternak terbesar di dunia, yaitu domba Lincoln.

Pola warna atau kolorasi umum domba Argali bervariasi, mulai dari kuning muda sampai kelabu-coklat tua, dengan bulu putih di sana-sini pada domba Argali yang sudah tua. Bagian bawah badan domba Argali berwarna keputihan, dan dipisahkan dari warna badan utama oleh garis berwarna gelap di sepanjang kedua sisi badannya. Wajah domba Argali terlihat lebih kecil. Selain itu, domba Argali jantan memiliki lingkar leher berwarna keputihan, yang meliputi hampir seluruh permukaan leher, dan jambul punggung, yang keduanya terlihat lebih jelas pada musim dingin. Domba Argali memiliki bagian pantat berwarna keputihan, meskipun terdapat banyak variasi antar subspesies dalam luas dan batas bagian berwarna keputihan pada pantat ini. Domba Argali dewasa memiliki sepasang tanduk sangat besar berpilin, yang bisa mencapai panjang 190 cm. Domba Argali betina juga bertanduk meskipun tanduknya jauh lebih kecil dan panjangnya jarang lebih dari 30 cm.

Masa kebuntingan domba Argali betina berlangsung selama 150 hingga 160 hari atau sekitar lima bulan. Satu kelahiran dihasilkan 1 atau 2 ekor anak. Anak domba Argali ini akan menyusu pada induknya selama 4 bulan.

Domba Argali betina mencapai usia dewasa kelamin setelah berumur 2 tahun, sedangkan domba Argali jantan baru mencapai usia dewasa kelamin setelah berumur 5 tahun. Domba Argali hidup sampai usia 10 hingga 13 tahun.

Kalau akan segera melahirkan, domba Argali betina memisahkan diri dari kelompoknya dan mencari tempat yang sulit dijangkau untuk melahirkan anaknya. Induk domba Argali dan anak domba yang baru dilahirkannya akan tetap memisahkan diri dari kelompoknya selama beberapa hari, dan selama beberapa hari tersebut anak domba Argali berbaring tak bergerak sementara induknya pergi sejenak mencari makan.

Menurut data yang ada, kepadatan populasi domba Argali berkisar dari 1,0 hingga 1,2 domba per kilometer persegi. Migrasi musiman terjadi pada sebagian populasi domba Argali (terutama domba Argali jantan), meskinpun ada kecenderungan domba Argali umumnya tinggal di daerah pegunungan yang lebih tinggi pada musim panas. Dengan kaki yang relatif panjang, domba Argali mampu berlari dengan cepat dan melarikan diri dari predator atau hewan pemangsanya, meskipun mereka sering harus lari ke lereng-lereng pegunungan yang curam. Domba Argali akan mengeluarkan suara tanda bahaya atau suara dengus tanda peringatan akan datangnya bahaya dengan menghembuskan udara melalui lubang hidungnya kalau ada ancaman hewan pemangsa. Saat berkelahi, domba Argali jantan mengangkat badannya dan berdiri dengan kedua kaki belakang, lalu memiringkan badannya ke depan dan berlari cepat ke arah lawannya dan membenturkan kedua tanduknya.

Domba Argali biasa hidup berkelompok menurut keluarganya dan kelompok domba Argali jantan terpisah dengan kelompok domba Argali betina, kecuali pada musim kawin, di mana setiap kelompok terdiri dari 2 hingga lebih 100 ekor domba Argali.

Makanan utama domba Argali berupa rumput-rumputan dan daun-daunan. Predator atau pemangsa utama domba Argali adalah serigala dan macan tutul salju.

Menurut IUCN (Serikat Konservasi Alam Internasional), domba Argali masuk kategori hewan yang rawan punah atau dua kategori di bawah kategori punah di alam liar. Sepasang tanduk domba Argali jantan terlihat sangat gagah dan indah sehingga domba Argali jantan bernilai sangat tinggi bagi para pemburu. Perburuan domba Argali berperan mengurangi populasi domba liar ini. Namun demikian, ancaman yang lebih serius adalah hilangnya habitat domba Argali akibat peragutan berlebihan (overgrazing) oleh domba ternak.

Saat ini diperkirakan terdapat 20.000 domba Argali yang hidup di Mongolia. Pada musim panas, domba Argali hidup di kawasan pegunungan Altai dengan ketinggian rata-rata 3.500 m dan pada ketinggian 1.100 m di kawasan stepa dan dekat gurun Gobi dan turun ke daerah yang lebih rendah pada musim dingin.

Domba Argali hidup di daerah yang dekat dengan sumber air, rawa asin dan padang rumput dan jarang bergerak jauh dari daerah seperti ini. Musim kawin dimulai dari bulan Oktober sampai November, dan domba Argali betina biasanya melahirkan seekor anak dan jarang melahirkan anak kembar pada bulan April sampai Mei.

Sumber air dan padang rumput domba Argali biasanya merupakan tempat yang sama dengan domba ternak. Di Mongolia terdapat 2 sub-spesies domba Argali: domba Argali Altai dan domba Argali Gobi. Domba Argali Altai sedikit lebih besar daripada domba Argali Gobi dalam ukuran badan dan tanduknya.

Sebagaimana trah domba liar lainnya, domba Argali termasuk klasifikasi domba bulu (hair sheep). Keunggulan nyata domba bulu ini adalah mereka tidak memerlukan pencukuran sebagaimana yang harus rutin dilakukan pada domba wol.

Dengan demikian, peternakan domba jenis ini lebih efisien daripada peternakan domba wol. Para peternak luar negeri pun belakangan ini semakin banyak yang mengalihkan perhatian dari domba wol ke domba bulu.

Mudah-mudahan, tulisan sederhana ini mampu menimbulkan minat para peternak yang memiliki kemampuan finansial memadai ataupun para pemilik modal Indonesia untuk mendatangkan domba unggul ini ke Indonesia.

Dengan didatangkannya domba unggul ini dari luar negeri ke Indonesia, usaha agrobisnis peternakan Indonesia, terutama peternakan domba, akan semakin berkembang dan koleksi jenis domba yang diternakkan jadi semakin beragam.

Karena di luar negeri pun masih sangat langka peternak yang mengembang-biakkan domba Argali, dan di Indonesia domba jenis ini belum ada yang mengembang-biakkannya, nilai jual domba terbesar di dunia ini tentu relatif tinggi. Nilai jual yang tinggi ini jelas menguntungkan bagi peternak yang mengembang-biakkannya.

Sebagai informasi, harga jual domba Argali jantan di Rusia adalah US$7.000. Dengan nilai tukar saat ini, harga ini setara dengan sekitar Rp63 juta. Harga yang sangat fantastis untuk seekor domba!

Selain itu, domba unggul ini juga bisa dikawin-silangkan dengan domba lokal untuk menghasilkan domba jenis baru dengan kualitas yang lebih baik dan pasti harganya lebih tinggi.

Peternak yang mengembang-biakkan domba unggul ini dapat membidik tiga segmen pasar sekaligus: pertama, penjualan domba Argali galur murni kepada para peternak yang ingin ikut mengembang-biakkan domba Argali galur murni. Kedua, penjualan peranakan domba Argali hasil perkawinan silang domba Argali jantan dengan domba lokal betina kepada para peternak yang tidak mampu membeli domba Argali galur murni. Ketiga, penjualan peranakan domba Argali ke pasar daging dalam negeri maupun luar negeri.

Rujukan:
http://www.argalipark.com/mongolia_argali.html#

Posted by Hipyan (Mr) at 7:36 PM 0 comments
Labels:

//

Sunday, January 30, 2011

Daftar Harga Domba Waringin

Kepada para peternak dan calon peternak yang tertarik untuk memelihara dan mengembang-biakkan domba pedaging unggul asal Sumatera Utara, yaitu domba Waringin, yang ditemukan Bapak Tista Waringin Sitompul, berikut saya berikan informasi harga domba Waringin jantan dan domba Waringin betina.

Domba Waringin Jantan:

Umur 4-6 bulan, berat 12-20 kg, Rp900.000/ekor

Umur 6-8 bulan, berat 20-30 kg, Rp1.200.000/ekor

Umur 8-10 bulan, berat 30-40 kg, Rp1.400.000/ekor

Umur 10-12 bulan, berat 40-50 kg, Rp1.800.000/ekor

Umur 12-18 bulan, berat 50-80 kg, Rp2000.000/ekor

Umur 18 bulan atau lebih, berat 70-145 kg, Rp2.500.000-Rp4.000.000/ekor

Domba Waringin Betina

Umur 4-6 bulan, berat 12-18 kg, Rp800.000/ekor

Umur 6-8 bulan, berat 18-25 kg, Rp1.200.000/ekor

Umur 8-10 bulan, berat 25-30 kg, Rp1.200.000/ekor

Umur 10-12 bulan, berat 30-40 kg, Rp1.400.000/ekor

Umur 12 bulan atau lebih, berat 40-70 kg, Rp2.500.000-Rp3000.000/ekor

Catatan:
1. Calon pembeli harus mendaftar dulu untuk memesan domba Waringin karena peminatnya cukup banyak.
2. Sebagai tanda jadi, calon pembeli harus memberikan uang panjar.
3. Pengangkutan domba yang dibeli ditangani sendiri oleh pembeli.
4. Silakan hubungi:
Bapak Tista Waringin Sitompul
Jl. DI Panjaitan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Stabat,
Kabupaten Langkat, Sumatera Utara
Telepon: (061)-891-2023
HP: 081-361-148-235

Segera hubungi Bapak Tista Waringin Sitompul untuk pemesanan domba Waringin karena persediaan domba Waringin di peternakan domba Waringin yang beliau kelola tidak selalu ada.

Sering terjadi, calon pembeli harus mendaftar dulu untuk pemesanan dan harus menunggu beberapa bulan untuk mendapatkan domba Waringinnya.

Jadi, kalau Anda berminat mengembang-biakkan domba Waringin yang merupakan domba pedaging unggul temuan putera terbaik Indonesia ini, jangan berpikir dan menunggu terlalu lama, segera hubungi Bapak Tista Waringin Sitompul, pimpinan Waringin Centre.

Rujukan:
http://tistawaringin.blogspot.com/2009/05/tentang-irtista-waringin-sitmpul.html

Posted by Hipyan (Mr) at 6:51 AM 0 comments
Labels:

//

Thursday, January 27, 2011

Gambaran Umum Domba Dorper

Kali ini saya tampilkan foto salah satu galur domba pedaging unggul asal luar negeri, domba Dorper. Sebagaimana kambing Boer, domba ini juga jelas sekali memperlihatkan tampilan fisik dengan karakteristik nyata domba pedaging.

Domba Dorper merupakan domba pedaging unggul hasil perkawinan silang yang dilakukan oleh Departemen Pertanian Afrika Selatan antara domba Dorset dan domba Persia kepala hitam. Nama “Dorper” untuk domba hasil perkawinan silang ini merupakan gabungan suku kata awal domba Dorset (Dor-) dan suku kata awal domba Persia (Per-). Karena keunggulannya sebagai domba pedaging, domba Dorper merupakan trah domba kedua yang paling banyak dipelihara para peternak Afrika Selatan. Domba Dorper mampu hidup di daerah gersang dan beriklim tropis di Afrika Selatan. Karena itu, domba Dorper cocok diternakkan di Indonesia yang beriklim tropis sebagaimana iklim di negara asal domba Dorper ini, yaitu Afrika Selatan.

Di luar Afrika Selatan, domba Dorper juga banyak diternakkan di Australia. Di negara Kanguru ini, domba Dorper banyak dipelihara di daerah gurun dan kawasan beriklim tropis benua ini serta daerah selatan Australia yang bercurah hujan tinggi. Domba Dorper ini bahkan terbukti mampu berkembang biak di daerah berhawa sangat dingin dan lembab seperti Tasmania.

Badan domba Dorper dalam, lebar, panjang, dan padat berisi. Domba Dorper jantan bisa mencapai bobot hidup 110 hingga 130 kg, sedangkan domba Dorper betina bisa mencapai bobot hidup 80 sampai 110 kg. Domba Dorper ada yang berkepala hitam dan ada juga yang putih total. Namun demikian, peternak domba Dorper di luar negeri tidak lebih menyukai salah satu di antara kedua jenis domba Dorper ini. Mereka biasanya memelihara baik domba Dorper kepala hitam maupun domba Dorper putih. Mutu kedua jenis domba Dorper ini sama saja; yang berbeda cuma warnanya.

Domba ini termasuk klasifikasi domba bulu (hair sheep), yaitu domba yang kadar bulunya lebih besar daripada wolnya. Berbeda dengan domba wol yang wolnya harus dicukur secara rutin, sebagai domba bulu, domba Dorper tidak perlu dicukur. Di luar negeri yang beriklim empat musim, bulu domba Dorper ini tumbuh cukup lebat di musim gugur dan dingin. Namun demikian, ketika memasuki musim semi dan musim panas, bulu yang lebat tadi luruh dengan sendirinya sehingga yang tertinggal hanya bulunya yang mirip dengan bulu kambing.

//

Domba Waringin, Domba Pedaging Unggul Asal Sumatera Utara

Sebagai bangsa Indonesia, kita patut berbangga atas karya besar salah seorang pakar peternakan di Stabat, Langkat, Sumatera Utara, Bapak Tista Waringin Sitompul. Kerja keras beliau selama sembilan tahun untuk menciptakan domba unggul dengan mengawin-silangkan domba luar negeri dengan domba lokal membuahkan hasil berupa domba pedaging unggul yang diberi nama sesuai namanya, yaitu domba Waringin.

Dibandingkan dengan domba Kampung, domba Waringin ini sangat jauh lebih besar. Bobot hidup domba Kampung paling hanya 25kg pada domba Kampung betina dan 40kg pada domba Kampung jantan. Sebaliknya, bobot hidup domba Waringin betina dan jantan bisa mencapai 80 hingga 135kg.

Selain itu, domba Waringin betina bisa melahirkan anak 2-4 ekor dalam satu kelahiran. Dengan demikian, domba Waringin ini tergolong domba yang sangat prolifik.

Usaha Ir. Tista Waringin Sitompul untuk menghasilkan domba unggul dimulai pada tahun 1990. Pada mulanya, beliau mengawin-silangkan domba Suffolk jantan dari Inggris dengan domba Kampung betina. Domba hasil perkawinan silang (F1S) ini terus dikembangkan dan diseleksi melalui penelitian selama bertahun-tahun untuk memperoleh domba yang paling baik dan tahan terhadap penyakit.

Kemudian, beliau mengawin-silangkan domba Barbados Perut Hitam asal Karibia, Amerika, dengan domba Kampung sehingga dihasilkan domba F1B. Selanjutnya, domba St.Croix jantan, yang juga berasal dari Karibia, juga dikawin-silangkan dengan domba Kampung betina sehingga diperoleh keturunan F1C.

Domba hasil perkawinan silang F1B dan F1C ini juga dikembangkan dan diseleksi untuk memperoleh domba keturunan terbaik. Selanjutnya, domba terbaik F1B dikawin-silangkan dengan domba terbaik F1C. Hasil perkawinan silang antara F1B dan F1C ini kemudian dikawin-silangkan dengan domba F1S. Hasil perkawinan silang inilah yang menghasilkan domba pedaging unggul, yaitu domba Waringin.

Setelah proses penelitian dan seleksi selama bertahun-tahun, pada tahun 1997 diperoleh domba Waringin terbaik. Pada tahun ini, domba Waringin juga mulai disebarkan kepada masyarakat peternak di kabupaten Langkat.

Selain tahan terhadap penyakit, domba Waringin temuan Ir. Tista Waringin Sitompul ini juga tidak pilih-pilih makanan. Semua jenis rumput dan konsentrat disukai domba Waringin. Selain itu, serat daging domba Waringin lebih halus dibandingkan dengan domba galur lain.

Yang terakhir, sebagai domba hasil perkawinan silang antara domba luar negeri dengan domba lokal, tentu saja domba Waringin ini cocok diternakkan di seluruh wilayah Indonesia yang beriklim tropis.

Mari kita kembangkan dan budi-dayakan domba pedaging unggul temuan putera terbaik bangsa Indonesia ini.

Keuntungan Beternak Domba Bulu

Karena biaya pencukuran wol semakin mahal dan harga wol mentah semakin murah, banyak peternak luar negeri yang tidak lagi tertarik beternak domba wol dan beralih memelihara domba bulu. Domba bulu memang memberikan beberapa keuntungan dibandingkan dengan domba wol.

Pencukuran domba bisa menimbulkan stres pada domba bersangkutan meskipun pencukuran ini hanya dilakukan sekali dalam setahun. Selain itu, pencukuran domba juga berpotensi menimbulkan luka akibat sayatan alat cukur atau patah kaki akibat penanganan yang kasar. Domba bisa stres saat dimasukkan ke kandang jepit. Saat digiring ke pojok kandang, domba berusaha melompati siapa pun atau apa pun yang menghalanginya saat domba berusaha melarikan diri. Hal ini membahayakan domba-domba yang masih kecil.

Para peternak domba wol biasanya memotong ekor anak domba beberapa hari setelah kelahirannya dengan pertimbangan kesehatan dan kebersihan. Ekor domba wol yang panjang dan berwol panjang ini memang cenderung kotor karena terkena tahinya. Selain itu, ekor panjang berwol panjang yang kotor juga mendatangkan parasit dan lalat. Namun demikian, pemotongan ekor anak domba ini berpeluang menimbulkan infeksi. Sebaliknya, bulu pada ekor domba bulu lebih pendek, sehingga ekornya tetap bersih dan tidak perlu dipotong.

Domba bulu umumnya juga lebih tahan terhadap parasit. Sebaliknya, domba wol sering terkena serangan kutu yang bersarang di dalam rambut wolnya yang lebat dan panjang dan mengisap darah domba. Karena domba bulu berbulu pendek, mereka dapat membuang kutu yang hinggap di badannya dengan menggaruknya menggunakan kukunya atau menggaruknya pada batang pohon atau pagar. Karena itu, parasit dan juga cacing jarang terjadi pada domba bulu.

Dengan menggunakan pejantan domba bulu dalam program perkawinan silang dengan domba wol betina yang lebih besar, peternak dapat mengurangi kemungkinan kesulitan melahirkan pada domba betina. Dengan anak domba yang lebih kecil, induk domba lebih mudah melahirkan anaknya.

Peternak umumnya memelihara domba untuk memperoleh dagingnya. Dalam hal ini, domba bulu sangat menguntungkan bagi peternak. Walaupun domba bulu lebih kecil daripada domba wol, daging domba bulu lebih sedikit lemaknya dan rasanya lebih lezat. Domba bulu biasanya tetap laku dijual setelah berumur lebih tua daripada domba wol karena rasa dagingnya masih tetap lezat.

Selain itu, domba bulu sangat mampu menyesuaikan diri dengan iklim panas atau dingin. Domba bulu bahkan tetap bisa hidup di lingkungan beriklim sangat dingin bila diberi kandang, dan kandang ini tidak perlu dilengkapi alat pemanas. Sebaliknya, domba wol tidak tahan panas dan udara lembab, kecuali bila wolnya dicukur.

Meskipun populasi domba bulu lebih sedikit dibandingkan dengan domba wol, domba bulu semakin terkenal dan warnanya sangat beragam. Sebagian trah domba bulu, seperti domba Barbado atau disebut juga domba Perut Hitam Amerika (American Black Belly), bertanduk pada domba jantan. Domba Barbado jantan bertanduk ini sangat gagah penampilannya, sehingga domba ini kadang-kadang digunakan dalam perburuan trofi (trophy hunting). Beberapa trah domba bulu yang terkenal adalah domba Katahdin, Barbado, Barbados Perut Hitam (Barbados Black Belly), Dorper, Painted Desert (domba belang keturunan domba Mouflon), dan St. Croix.

//

Domba Lincoln – Domba Terbesar di Dunia

Domba Lincoln adalah domba wol hasil perkawinan silang antara domba Leicester dan domba Lincolnshire yang berbulu kasar. Domba hasil persilangan ini terus dikembangkan dan diseleksi untuk menghasilkan trah domba terbaik. Banyak peternak yang berperan melakukan perbaikan karakteristik domba Lincoln ini. Namun demikian, dari sekian banyak peternak, keluarga Dudding di Great Grimsby, Lincolnshire, mungkin memberikan sumbangan terbesar bagi perbaikan karakteristik domba Lincoln ini. Keluarga peternak ini telah mengembang-biakkan domba Lincoln selama 175 tahun. Pada tahun 1913, domba Lincoln mulai diekspor ke berbagai negara di luar Inggris, terutama Argentina.

Domba Lincoln pertama kali diekspor ke Amerika Serikat pada awal abad ke 19. Namun demikian, domba Lincoln tidak pernah menjadi trah domba yang terkenal di Amerika Serikat kecuali di beberapa negara bagian di kawasan tengah, Idaho dan Oregon untuk produksi wol. Trah domba ini lebih terkenal di Kanada daripada di Amerika Serikat.

Berdasarkan kriteria bobot hidupnya yang mencapai 113 hingga 160 kg pada domba Lincoln jantan dewasa dan 90 sampai 113 kg pada domba Lincoln betina dewasa, domba Lincoln dinyatakan sebagai galur domba terbesar di dunia. Memang, berat rata-rata domba Lincoln lebih besar daripada domba trah lain.

Sebagai trah domba hasil persilangan yang telah dikembang-biakkan dan diseleksi selama ratusan tahun, domba Lincoln tidak bertanduk, kepalanya berwarna putih kebiruan, bertelinga menghadap ke depan, dan lapisan wol yang lebat di bagian kepala. Kakinya kokoh dan dipenuhi wol kecuali bagian bawah kaki depan. Wol yang dihasilkannya sangat berat dan kasar, keriting, panjang dan mengkilap.Domba Lincoln berbadan persegi, tinggi, dan lebar. Punggungnya lurus dan kuat, dan domba Lincoln dewasa berbulu tebal. Bulu wol domba Lincol sangat lebat dan berpilin membentuk spiral di bagian ujungnya. Bulu wol domba Lincoln menutupi badannya sampai ke lutut dan pergelangan kaki.

Serat wol domba Lincoln merupakan salah satu serat wol terpanjang di antara semua trah domba wol, yang panjangnya berkisar dari 20 hingga 38 cm dengan persentase wol 65 sampai 80 persen. Domba Lincoln menghasilkan wol paling berat dan paling kasar di antara domba berwol panjang, dan produksi wol domba Lincoln betina berkisar 5,4 hingga 9 kg per tahun. Meskipun wolnya kasar dan mirip rambut, wol yang dihasilkan domba Lincoln sangat mengkilap.

Karkas domba Lincoln sangat besar, berkadar lemak rendah, dan banyak dagingnya. Namun demikian, prolifikasi domba Lincoln tergolong sedang. Selera makan domba Lincoln sangat besar, sehingga domba Lincoln betina kadang terlalu gemuk dan susah beranak. Karena itu, para peternak modern melakukan seleksi untuk memperoleh domba Lincoln yang lebih gesit dan berpenampilan menarik serta tidak terlalu gemuk. Domba Lincoln umumnya berwarna putih cerah, dan kepalanya lebih besar dan kokoh daripada kepala trah domba berwol panjang lainnya.

Sebagai trah domba hasil persilangan yang telah dikembang-biakkan dan diseleksi selama ratusan tahun, domba Lincoln tidak bertanduk, kepalanya berwarna putih kebiruan, bertelinga menghadap ke depan, dan lapisan wol yang lebat di bagian kepala. Kakinya kokoh dan dipenuhi wol kecuali bagian bawah kaki depan. Wol yang dihasilkannya sangat berat dan kasar, keriting, panjang dan mengkilap.

//

Domba Bulu vs Domba Wol

Moyang liar galur-galur domba ternak sekarang ini berbulu panjang kasar dan bulu bawah pendek halus, yang kemudian berkembang menjadi wol melalui proses domestikasi perlahan, dan bulunya yang panjang menghilang. Domba liar, seperti domba Mouflon, tetap tidak berbulu wol.

Sebagian galur domba tetap sama dengan moyangnya dan tidak berbulu wol panjang yang perlu dicukur. Sebenarnya, wol merupakan kelemahan dan tidak menguntungkan di lingkungan dan keadaan tertentu.

Menurut perkiraan, sekitar 10 persen populasi domba dunia merupakan domba bulu, dan sekitar 90 persen di antaranya terdapat di Afrika, Asia, dan Amerika Latin dan Karibia.

Di Amerika Serikat dan daerah berhawa sejuk, populasi domba bulu bertambah dengan cepat seiring dengan peningkatan popularitasnya di kalangan peternak karena wol tidak lagi menguntungkan seperti dulu dan daging menjadi sumber penghasilan utama bagi sebagian besar peternakan domba. Domba bulu lebih disukai karena efisiensi produksinya dan kemudahan pemeliharaannya.

Domba bulu bukan hasil perkawinan silang antara domba dan kambing. Jumlah kromosom domba bulu sama dengan domba wol. Perbedaan utama antara domba bulu dan domba wol adalah perbandingan serat bulu dengan wol. Kedua jenis serat ini terdapat pada semua domba. Serat bulu lebih banyak pada domba bulu, dan serat wol lebih banyak pada domba wol. Domba wol harus dicukur, sedangkan domba bulu tidak perlu dicukur. Domba bulu biasanya juga tidak perlu dipotong ekornya. Ekor domba wol biasanya dipotong karena alasan kesehatan dan kebersihan.

Sebagaimana domba wol, terdapat juga perbedaan di antara galur domba bulu, tergantung pada lingkungan asalnya. Sebagian domba bulu berbulu pendek halus tanpa wol, sementara sebagian domba bulu yang lain berbulu tebal dan terdapat perpaduan serat bulu dan wol yang luruh secara alami setiap tahun. Domba bulu cenderung berserat wol lebih banyak di daerah beriklim dingin, sehingga mereka dapat beradaptasi dengan lingkungan ekstrem yang berbeda.

Sebagian galur baru domba bulu merupakan hasil perkawinan silang antara galur domba bulu “murni” dan galur domba wol tipe pedaging. Domba jenis ini lebih banyak serat wolnya daripada domba bulu biasa, tapi bulunya luruh secara alami setiap tahun dan tidak perlu dicukur. Domba jenis ini mungkin lebih tepat dikategorikan sebagai domba “luruh”.

Selain meluruhkan bulunya, domba bulu memiliki karakteristik unggul lainnya. Domba bulu yang berasal dari daerah tropis tingkat reproduksinya tinggi, lebih tahan terhadap parasit internal (cacing) dibandingkan dengan domba wol biasa, dan lebih toleran terhadap panas dan kelembaban.

Dari segi kulitnya, kulit domba bulu memiliki jaringan serat yang lebih rapat dan kuat sehingga menghasilkan kulit yang lebih baik. Hal ini karena serat wol halus yang banyak terdapat pada domba wol membuat kulitnya lebih terbuka dan longgar teksturnya.

Anak domba bulu memiliki kemampuan hidup dan tumbuh yang luar biasa. Tingkat pertumbuhannya bervariasi menurut galur, genetika, dan nutrisinya. Domba bulu umumnya menjadi gemuk seperti kambing, yaitu dengan menimbun lemak di sekitar organ internalnya sebelum menghasilkan lemak eksternal. Karena itu, anak domba bulu sebaiknya tidak diberi pakan lengkap di fidlot. Sebagaimana kambing, anak domba bulu sebaiknya digemukkan secara perlahan dengan pemberian pakan berkadar energi rendah dan berserat tinggi.

Keterangan gambar:
Kiri atas: Domba Merino Rambouillet jantan (domba wol)
Kanan bawah: Domba Dorper putih jantan (domba bulu)

Domba Garut

Ini adalah foto Bima, seekor domba Garut jantan. Perhatikan tampilan fisiknya yang sangat mengesankan – ukuran tubuh yang tinggi besar, tanduk indah besar berpilin dan ujungnya menghadap ke depan, tatapan mata yang tajam, serta penampilan yang gagah dan menawan.
Wah, saya jadi tertarik untuk membeli bibit sepasang domba Garut untuk dikembangbiakkan sebagai tambahan koleksi ternak di peternakan kambing skala rumah tangga saya yang sudah ada sekarang.

 




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: